Istilah Stunting sudah tidak asing lagi bagi telinga masyarakat di Indonesia. Stunting sendiri diketahui mengandung arti adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan terhadap anak yang disebabkan kekurangan gizi Kronis, kurangnya asupan gizi dalam jangka waktu panjang yang alhasil berdampak terhadap pertumbuhan pada si anak. Bagi anak yang mengalami Stunting maka secara otamatis perkembangan tinggi badan menjadi lambat, sehingga anak tersebut akan lebih rendah dengan anak seusianya yang terpenuhi asupan gizi.
Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) kata Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, KB, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2KBP3A) dr. Helminur Iskandar Sinaga, M.Kes, menjelaskan bahwa pada tahun 2022 ada sekitar 21,10 persen anak yang mengalami Stunting dan dengan berbagai upaya yang dilakukan berhasil turun menjadi 14,40 persen. Penurunannya 6,70 persen. Untuk di Sumatera Utara diketahui ada 8 Kabupaten/Kota yang mengalami penurunan Stunting termasuk Sergai.
Nah, untuk tahun 2023 menurut data, ada 884 bayi yang mengalami Stunting pada bulan Januari 2023 dan telah mengalami penurunan menjadi 554 bayai. Upaya pencegahan terus dilakukan sehingga pada tahun 2024 diharapkan dapat terwujud target prenvalensi stunting yang telah ditetapkan di bawah 14%, sehingga setiap tahun dapat menurunkan jumlah bayi yang mengalami Stunting 3,55 persen. Hal ini juga sudah menjadi arahan dan intruksi dari Bupati Sergai H.Darma Wijaya dan Wakil Bupati Sergai H.Adlin Umar Yusri Tambunan.
Bentuk keseriusan dan komitmen Pemkab Sergai melakukan pencegahan dan penurunan terhadap bayi yang alami Stunting, Pemkab Sergai telah membentuk Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) yang di Ketuai oleh Wakil Bupati Sergai Adlin Tambunan. Selain telah membentuk TPPS, Pemkab Sergai mengandeng pihak-pihak yang memiliki kepedulian terhadap kesehatan baik itu perusahaan maupaun organisasi.

Upaya itu terus dilakukan dengan menjalin kerjasama dalam menangani masalah penurunan Stunting juga bersama Universitas Bina Nusantara (Binus), Universitas Sumatera Utara dan PT. Mega Medica Pharmaceuticais (MMP). Berdasarkan hasil riset mereka yang dilakukan selama 6 bulan pada tahun 2023 yang lalu, kalau tidak salah diikuti oleh 20 Puskesmas Stunting alami penurunan.
Langkah pencegahan tesebut memang membuahkan hasil dengan memberikan asupan gizi yang telah diolah menjadi Sirup Kombinasi Ekstrak Ikan Gabus, Miniran, Jamu Temu Lawak dan Madu berasal bantuan dari PT. MMP. Usaha ini alhadulillah hasilnya baik terhadap penurunan Stunting. Sirup itu diberikan kepada bayi yang mengalami Stunting. Ungkap dr.Helmi.
Himbaun bagi kaum ibu dan masyarakat untuk doyan makan ikan juga terus disuarakan di tengah-tengah kalangan masyarakat. Nah, adapuan langkah dan upaya yang dilakukan oleh Pemkab Sergai melalui Tim Percepatan Penurunan Stunting Indonesia sebagai rutinitas sebagai mana berikut di bawah ini :

- Melakukan pemeriksaan kehamilan ibu dan pemberian makanan tambahan guna mencukupi kandungan gizi dan zat besi pada kehamilan.
- Melakukan pemberian makanan tambahan pada Balita
- Pemberian Das’hat (Dapur sehatAtasi Anak Stunting)
- Pemberian TTD (Tablet Tambah Darah) bagi para remaja putri
- Pemberian makanan tambahan berupa protein hewani pada anak usia 6-24 bulan seperti Telur, Ikan, Ayam, Daging dan Susu.
PT.Aqua Farm dan Baznas Beri Bantuan
Selain pemberian makanan tambahan kepada ibu hamil kata dr.Helmi, tim medis yang ada di 17 kecamatan se Sergai juga memberikan vitamin tambah darah untuk ibu hamil. Pemberian ikan olahan dalam bentuk makanan diberikan untuk Baduta (Bayi dua tahun) dan Balita (Bayi lima Tahun) khusus yang bedomisili di Kecamatan Pantai Cermin, Perbaungan, Teluk Mengkudu dan Tanjung Beringin. Ikan olahan dalam bentuk makanan itu merupakan bantuan dari PT Aqua Farm yang berdiri di Kecamatan Pantai Cermin,Sergai. Bantuan ini Ikan olahan ini diberikan untuk 147 Baduta dan Balita di 4 kecamatan.













