Dalam penjelasannya, Nikson Nababan menyebut bukan hal yang ujug-ujug menjadi seorang bupati. Apalagi dirinya berhasil membangun Kabupaten Tapanuli Utara, yang terbebas dari kemiskinan saat dirinya menjabat sebagai Bupati selama dua periode.
“Di Taput, kemiskinan berhasil kita turunkan, termasuk pengangguran dan kesenjangan sosial semakin menipis. Data Statistik BPS bisa kita akses, income per kapita masyarakat Taput itu terus bertambah saat saya memimpin,” tutur pria kelahiran Siborong-borong Taput, 5 Oktober 1972 ini.
Demikian juga halnya dengan akses jalan yang dulunya tidak ada berhasil dibuka ruas-ruas jalan menuju antar desa. “Taput ini bisa disebut miniaturnya Sumatera Utara. Desa-desa yang dulunya terisolir telah berhasil kita buka, dengan program infrastruktur.”
“Pungli jabatan, semua kita hilangkan. Naik jabatan, angkat Kepala Sekolah, PPPK semua tanpa uang. Keberhasilan ini akan kita adopsi untuk membangun Sumatera Utara. Image Sumut ‘Semua Urusan Mesti Uang Tunai’ itu akan kita ubah menjadi Semua Urusan Mesti Urus Tuntas’,” ujarnya lagi.
Tak hanya itu, lebih dari 6.000 hektare lahan tidur, bahkan lahan tak terpakai seperti rawa-rawa sekali pun bisa diubah menjadi hal yang bermanfaat bagi masyarakat. Ide pembangunan serta program kerja seorang Nikson Nababan bisa dibuktikan dan dilihat meski tak lagi menjabat. “
‘Anak Kampung’ ini pun memastikan dirinya maju menjadi Gubernur Sumut dan siap menularkan keberhasilannya untuk Sumatera Utara.
Menyinggung soal keberagaman budaya masyarakat di Sumut juga tak luput dari pemikiran Nikson Nababan. “Saya menilai masyarakat Sumut ini cukup cerdas. Kita dilahirkan dan diciptakan oleh Tuhan memang berbeda-beda. Masyarakat kita kan pluralis baik agama, suku atau pun budaya,” ucapnya.
“Pluralisme ini harus kita jaga bersama, bahwa saya sebagai pemimpin secara administratif. Masyarakat memahami ini. Di Taput saat saya bupati, minoritas dan mayoritas itu kita hilangkan. Tidak dibeda-bedakan, semua adalah saudara saya yang menerima perlakuan yang sama.”













