“Selain itu, kasus gratifikasi pesawat jet yang diduga melibatkan Walikota Medan semakin memperkeruh citra pemerintahan daerah dan kasus dugaan keterlibatan Bobby Nasution pada korupsi tambang atau dikenal Blok Medan menunjukkan lemahnya integritas dan kredibilitas Walikota Medan,” katanya.
GMNI, kata Damses, sudah bsberapa kali melakukan aksi atau parlemen jalanan menuntut Bobby Nasution menjelaskan persoalan- persoalan tersebut.
“Kami pernah menyerahkan dua ekor bebek kepada Bobby dan Ketua PKK Medan Kahiyang Ayu. Juga aksi unjuk rasa dua kali ke Kantor Walikota dan teaterikal mengadili Walikota Medan. Sehingga pada hari ini dengan ssgala hormat menyediakan tempat untuk meluruskan perspektif masyarakat tentang dia,” ujar Damses.
Disayangkan, sambung Damses, Bobbu seperti tidak terpanggil atau tidak terganggu dengan keresahan di tengah masyarakat itu.
“Harapan kami, mahasiswa sebagai kontrol sosial dan agent of change untuk memperbaiki kondisi di pemerintahan agar pembangunan ke depan lebih baik,” ucap Damses pada acara yang dihadiri perwakilan GMNI dari berbagai komisariat.
Namun Dr Hisar Siregar yang jadi pembicara berikutnya, memiliki penilaian beda terkait kasus-kasus yang dituduhkan terhadap Bobby Nasution tersebut.
Dia berpendapat, Bobby Nasution tidak bisa serta merta dijustifikasi bersalah, sebelum ada uji hukum dari pihak-pihak berwenang seperti kejaksaan dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
“Tapi untuk membawa Bobby ke pengadilan butuh data. Jangan bilang aparat penegak hukum tidak mau. Saya pernah bicara dengan seorang teman yang penegak hukum, kalau Bobby dibawa ke pengadilan, jangan- jangan ada data bandingan,” ungkapnya.
Hisar juga menduga, ada pihak yang mendorong Bobby untuk melakukan hal-hal tersebut, orang-orang dekatnya membusukkan dia.
“Jadi hancur namanya, ibarat dia masuk kubangan lumpur. Saya kasihan dia jadi korban. Ibaratnya kasus Blok Medan, tak mungkin dia makan sendiri, pasti ramai-ramai tapi yang korban namanya dia,” jelas Hisar.
Sementara dalam sesi diskusi dan tanya jawab, salah seorang peserta, Dion meminta dalam kegiatannya jangan ada kepentingan politik dan jangan ada kesan GMNI ditunggangi parpol tertentu.













