Ketua Inkopontren, H Hapi Jazuli mengatakan, untuk tahap awal ini ada 16 titik dapur yang mulai dibangun di lokasi pondok pesantren di Sumut. Namun, diperkirakan program ini akan terus berjalan hingga bisa membangun sekira 300 dapur umum di pondok pesantren, untuk memenuhi semua kebutuhan santri dan siswa yang ada di Sumut.
“Sumut itu kurang lebih yang sudah asesmen itu ada 16 dapur. Tapi, yang total pesantren yang ada di wilayah Sumut ada 500 –an. Total itu siswanya ada satu juta. Jadi, kalau dibagi rata- rata itu 300 titik yang berpotensi di Sumut,” ucapnya.
Ditunjukkan Pondok Pesantren Mawaridussalam sebagai lokasi produksi penyedia dapur MBG tentu mendapat apresiasi dari pimpinan. Pimpinan Pondok Pesantren Mawaridussalam, Basron Sudarmanto berharap pembangunan dapur bisa berjalan cepat, atau minimal April nanti sudah rampung.
“Tadi diupayakan bisa dipercepat April, semoga saja yang kita harapkan itu cepat terwujud. Dengan peletakan batu pertama tadikan, cepat dimulai dan selesai. Ini kan hanya untuk tempat produksi, sebagian untuk di sini, sebagian di sekolah sekeliling kita,” ujar Basron.
Dikatakan Basron, meski dapur produksi MBG dilakukan di dalam pesantren, namun untuk suplay makanan tidak hanya untuk para santri. Sejumlah sekolah yang berada di sekitar pesantren juga akan mendapat bagian MBG.
“Di sini ada Sekolah Dasar, Tsanawiyah, dan kuotanya satu titik ada yang 2.000 hingga 3.000 siswa. Ke depan itu nanti ada 30-40 orang yang menjadi pekerja di dapur ini,” ucapnya.
Nantinya, tiap sentra dapur akan ada tiga petugas yang bertanggung jawab. Mulai dari petugas dari pimpinan manajer, ahli gizi, dan manajemen keuangan. Sedangkan untuk tenaga juru masak hingga distributor termasuk supplier bahan baku tetap didatangkan dari daerah. ( R-05 )













