Yang ketiga, Irjen Whisnu mengulas makna tema “Polri untuk Masyarakat” dengan cara yang tak biasa. Ia mengisahkan pengalamannya di pagi hari sebelum upacara, saat kamar mandi rumahnya tergenang akibat sumbatan rambut di saluran air.
“Saya baru benar-benar memahami makna tema ini saat melihat air tergenang karena rambut yang kecil-kecil namun banyak, menyumbat aliran. Ini pelajaran. Sesuatu yang kecil, jika dilakukan terus-menerus dan bersama-sama, bisa berdampak besar. Begitu pula dengan Polri. Jika setiap anggota melakukan hal benar secara konsisten, dampaknya akan luar biasa bagi masyarakat,” jelasnya.
Irjen Whisnu juga mengingatkan bahwa di usia Polri yang ke-79, setiap anggota harus semakin bijak dan matang dalam bertindak.
“Polri sudah tua. Sudah waktunya kita jadi lebih bijaksana. Jangan marah-marah, jangan emosional. Kalau ada masyarakat salah jalan, cukup ditegur dengan santun,” ujarnya tegas.Upacara HUT Bhayangkara ke-79 di Polda Sumut ini bukan hanya menjadi ajang seremonial, tetapi juga momentum introspeksi dan penguatan komitmen pelayanan publik yang lebih baik. Melalui tema singkat namun padat, “Polri untuk Masyarakat”, seluruh jajaran diharapkan menjadikan masyarakat sebagai pusat orientasi kerja, bukan hanya sekadar slogan.(Mar)













