Majelis Istiadat Angkat Sumpah Pemangku Sultan Asahan XIII dan Kurnia Gelaran Orang Besar Berlangsung Penuh Wibawa Adat – Sinarsergai
Daerah

Majelis Istiadat Angkat Sumpah Pemangku Sultan Asahan XIII dan Kurnia Gelaran Orang Besar Berlangsung Penuh Wibawa Adat

×

Majelis Istiadat Angkat Sumpah Pemangku Sultan Asahan XIII dan Kurnia Gelaran Orang Besar Berlangsung Penuh Wibawa Adat

Sebarkan artikel ini

 

MEDAN, Sinarsergai.com –  Majelis Istiadat Angkat Sumpah Pemangku Sultan Asahan XIII dan penganugerahan gelaran orang besar berlangsung khidmat dan penuh wibawa di Tiara Convention Hall Medan, Sabtu (29/11/2025).

Suasana sakral tampak sejak awal prosesi, ketika para tetamu adat dari berbagai kesultanan di Sumatera Timur memasuki balairung dengan busana kebesaran masing-masing.

Hadir dalam majelis itu Sultan, Raja, Datuk, Datin beserta para datuk bergelar. Kehadiran para raja dan perwakilan dari Kesultanan Langkat, Sultan Deli XIV, Sultan Serdang, Sultan Kota Pinang, serta delegasi dari Bilah, Bedagai, Ramunia, dan Limapuluh mempererat nuansa persaudaraan kerajaan Melayu yang sejak lama menjalin ikatan sejarah.

Prosesi bermula ketika Datuk Edwin Ginting Suka, bergelar Datuk Laksamana, menghadap Seri Paduka Baginda Tuanku Sultan Asahan XIII untuk melaporkan bahwa majelis telah siap dimuliakan.

Setelah itu, lantunan Ayat Suci Al-Qur’an oleh Dr. Wahdi Sihombing dan Sari Tilawah oleh Omaar Gibran Siregar mengisi ruangan, membawa seluruh hadirin pada suasana religius. Lagu Indonesia Raya kemudian dikumandangkan sebagai simbol hormat negara dan adat.

Pembacaan Sari Kata Alu-aluan oleh Datuk Razuar Yahya, bergelar Datuk Bijak Bestari, menandai dimulainya prosesi utama.

Puncak acara berlangsung saat Majelis Istiadat Angkat Sumpah Pemangku Sultan Asahan XIII, Tengku Alexander Al-Hajj Ibnu Sultan Sa’ibun Abdul Djalil Rahmadsyah, diambil sumpahnya oleh Seri Paduka Baginda Tuanku Sultan Muhammad Iqbal Alvinanda Abdul Djalil Rahmadsyah. Prosesi sakral ini ditandai penyerahan alamat kebesaran Kesultanan Asahan kepada pemangku sultan, berupa jurong—tempat sirih para raja peninggalan Sultan Iskandar Muda—dan pedang bawar pusaka peninggalan yang sama.

Kedua pusaka ini memiliki nilai sejarah tinggi dan menjadi bagian dari tradisi penabalan Sultan Asahan sejak masa Sultan Abdul Djalil, Sultan Asahan I, pada sekitar tahun 1630. Penyerahan pusaka itu bukan sekadar simbol legitimasi, tetapi juga peneguhan amanah dan kesinambungan marwah kesultanan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *