*Air Mata yang Tidak Direncanakan*
Di Aceh Tamiang, empati itu menemukan puncaknya. Saat bertemu warga yang rumahnya terendam, sawahnya rusak, dan kehidupannya terhenti sementara, air mata Ny. Henny menetes. Bukan air mata yang dicari kamera, melainkan respons spontan dari pertemuan batin dengan penderitaan.
Beberapa ibu yang mendampingi rombongan ikut menangis. Bukan karena bantuan semata, tetapi karena merasa dilihat dan didengar.
Dalam banyak bencana, korban sering kali tidak hanya membutuhkan logistik, tetapi juga pengakuan: bahwa penderitaan mereka nyata dan diperhatikan.
“Hari ini kami hadir mewakili Pemerintah Kabupaten Batu Bara untuk menyalurkan semua bantuan dari masyarakat Batu Bara kepada masyarakat Aceh Tamiang,” ujar Ny. Henny di sela penyaluran bantuan.
Kalimat itu sederhana, tetapi sarat makna. Ia menegaskan bahwa bantuan ini bukan milik pemerintah semata, melainkan hasil gotong royong masyarakat yang disampaikan dengan tangan dan hati.
*PKK dan Wajah Kepemimpinan Sosial*
Sering kali, organisasi seperti PKK dipersepsikan hanya bergerak di wilayah seremonial dan domestik. Namun dalam situasi krisis, peran itu menemukan maknanya yang paling substansial: menjadi jembatan empati antara negara dan warga.
Di tangan Ny. Henny, PKK tampil sebagai kekuatan sosial yang lincah, responsif, dan manusiawi. Bantuan yang disalurkan pun beragam dan kontekstual: beras, mi instan, pakaian layak pakai, air mineral, perlengkapan mandi, makanan siap saji, hingga kebutuhan khusus seperti pampers.
Total logistik yang dibawa mencerminkan kepekaan terhadap kebutuhan nyata korban bencana.
Ketua TP PKK Aceh Tamiang menyampaikan terima kasih atas solidaritas masyarakat Batu Bara. Bantuan tersebut akan disalurkan kepada warga yang benar-benar membutuhkan. Di titik ini, solidaritas lintas daerah menemukan wujudnya yang konkret.
Empati sebagai Energi Kepemimpinan
Sebagai istri dari Bupati Batu Bara, peran Ny. Henny kerap dipahami sebagai pendamping kepala daerah.
Namun dalam konteks ini, ia menunjukkan bahwa peran tersebut bukan sekadar simbolik. Empati yang ia hadirkan di lapangan memberi energi moral bagi kepemimpinan secara keseluruhan.













