Kecaman Keras dan Dukungan Moril
Insiden penganiayaan ini menuai kecaman keras dari berbagai tokoh umat dan masyarakat. Salah satunya datang dari Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kabupaten Deli Serdang, Ust. H.Sulaiman Hasibuan, yang mengecam keras tindakan kekerasan brutal tersebut.
Menurutnya, tindakan penganiayaan terhadap tokoh ormas Islam sekaligus pimpinan media merupakan perbuatan biadab, melanggar hukum, dan mencederai nilai-nilai keislaman serta kebangsaan.
Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kabupaten Deli Serdang, Ust. H.Sulaiman Hasibuan, juga mendesak aparat kepolisian agar bertindak tegas tanpa pandang bulu.
Kecaman dan dukungan moril juga disampaikan oleh Ketua MUI Kabupaten Deli Serdang, serta unsur Kecamatan Percut Sei Tuan, yang menyatakan keprihatinan mendalam atas peristiwa tersebut.
Mereka menyatakan solidaritas dan dukungan penuh kepada korban agar segera pulih, serta meminta agar kasus ini diusut tuntas sesuai hukum yang berlaku.
“Tindakan kekerasan dan premanisme dengan mengatasnamakan organisasi tidak dapat dibenarkan dalam kondisi apa pun. Aparat harus bertindak tegas demi menjaga ketertiban dan keharmonisan umat,” tegasnya.
Desakan Keras kepada Aparat Kepolisian
Insiden ini juga mendapat sorotan luas dari tokoh masyarakat, aktivis, dan insan pers.
Diantaranya, kutukan di sampaikan Panglima LPI Sumut, Ahmad Efendi Bangun dan juga Sai’in.
Mereka mendesak aparat kepolisian agar bergerak dan bertindak cepat, profesional, dan transparan dalam mengusut tuntas dugaan penganiayaan yang melibatkan ormas MPTW pimpinan Abdul Latif Balatf bersama belasan anggotanya serta Sori Muda Siregar/Baon Cs.
Sebagai pimpinan ormas Islam dan media yang selama ini dikenal kritis menyuarakan keadilan, keumatan, dan penolakan terhadap ketidakadilan, Azhari (korban) dinilai kerap menjadi sasaran intimidasi.
Oleh karena itu, publik menegaskan kasus ini tidak boleh diperlakukan sebagai tindak pidana biasa.
“Kami mendesak Kapolda Sumatera Utara segera mengungkap para pelaku, aktor intelektual, motif, serta pihak-pihak yang terlibat. Negara tidak boleh kalah oleh kekerasan dan premanisme,” tegas mereka.













