Lebih lanjut, Oloan menggaris bawahi bahwa demokrasi lokal kerap melemah bukan karena pelanggaran besar yang kasat mata, melainkan karena akumulasi keputusan-keputusan kecil yang secara perlahan mengikis kepercayaan masyarakat.
“Ketika praktik-praktik seperti ini menjadi kebiasaan, publik bisa merasa bahwa proses pemerintahan semakin tertutup, meski secara formal semuanya terlihat sah,” katanya.
Meski demikian, Oloan menegaskan bahwa pandangan kritis yang ia sampaikan bukanlah bentuk delegitimasi terhadap pemerintahan atau pejabat yang dilantik. Ia menyebut kritik tersebut sebagai bagian dari kontrol sosial yang sah dalam demokrasi.
“Masukan ini justru dimaksudkan agar pemerintahan semakin kuat, karena kekuasaan yang terbuka terhadap kritik akan lebih kokoh dibanding kekuasaan yang hanya bertumpu pada prosedur,” pungkasnya. ( Hs/rit )













