LHOKSEUMAWE, Sinarsergai.com-[29/01] – Pasca banjir yang melanda sejumlah wilayah di Aceh Utara berlokasi di desa Riseh Tunong, tidak hanya rumah dan harta benda yang terdampak, tetapi juga kondisi psikologis para korban, terutama anak-anak. Melihat kondisi tersebut, Lapas Kelas IIA Lhokseumawe hadir dengan kegiatan Trauma Healing sebagai upaya memberikan ruang aman dan keceriaan bagi para korban banjir.
Kegiatan ini dilaksanakan pada Kamis, 29 Januari 2026, di lokasi pengungsian korban banjir Riseh Tunong. Suasana hangat dan penuh keakraban terasa sejak awal kegiatan. Anak-anak tampak antusias mengikuti berbagai permainan sederhana, bernyanyi, dan berinteraksi bersama petugas. Tawa yang perlahan muncul menjadi tanda bahwa mereka mulai merasa nyaman dan diperhatikan.
Melalui kegiatan trauma healing ini, Lapas Kelas IIA Lhokseumawe berupaya membantu memulihkan kondisi mental para korban, khususnya anak-anak yang sebelumnya mengalami ketakutan, kecemasan, dan tekanan akibat bencana. Pendekatan dilakukan secara ringan dan humanis, agar para korban dapat mengekspresikan diri dan perlahan melupakan pengalaman traumatis yang mereka alami. Kalapas Kelas IIA Lhokseumawe menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian dan empati terhadap masyarakat yang sedang tertimpa musibah.
“Kami ingin hadir bukan hanya membawa bantuan, tetapi juga menghadirkan rasa aman dan perhatian. Anak-anak adalah yang paling rentan terdampak secara psikologis, dan melalui kegiatan ini kami berharap mereka bisa kembali tersenyum dan merasa tidak sendirian,” ujar Kalapas Lhokseumawe.
Kehadiran tim trauma healing ini disambut dengan baik oleh para pengungsi. Salah seorang warga mengungkapkan rasa syukurnya atas kegiatan tersebut.
“Sejak banjir, anak-anak sering takut dan sulit diajak bercanda. Hari ini mereka terlihat lebih ceria. Kami sangat berterima kasih karena ada yang peduli dengan kondisi mental anak-anak kami,” tuturnya.
Kegiatan trauma healing ini menjadi bagian dari komitmen Lapas Kelas IIA Lhokseumawe untuk terus hadir di tengah masyarakat, tidak hanya dalam tugas pemasyarakatan, tetapi juga dalam aksi kemanusiaan. Diharapkan, kebersamaan dan perhatian yang diberikan dapat menjadi penguat bagi para korban untuk bangkit dan menata kembali kehidupan mereka setelah bencana.













