LANGKAT,Sinarsergai.com – Kinerja Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Langkat, kini disorot oleh
Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Masyarakat Pencari Keadilan dan Anti Korupsi (DPP LM-PEKA). Pasalnya, beredar isu tentang rekanan berinisial AG melalui ZA, S. Pd dan AS S. Pd melakukan intimidasi kepada pihak-pihak sekolah agar proyek pengadaan buku bisa diperoleh. Rekan itu dikabarkan suruhan dari Sekretaris Dinas Pendidikan Langkat. Dampak dari intimidasi tersebut, pihak Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama ,(SMP) resah dan merasa tidak nyaman.
“Sementara Informasi yang berkembang di dunia pendidikan Langkat ZA, AS adalah salah satu kepsek SD untuk memuluskan proyek buku dan pengadaan lainnya melalui AG yang diduga orang dekat Sekertaris Dinas Pendidikan Langkat yakni RHG. Yang diduga melakukan intimidasi kepada pihak sekolah SD Negri yang ada di Kabupaten Langkat. Ini akan menjadi sorotan kita apakah benar atau tidak, jangan -jangan AG, ZA, menjual Nama Sekdis Pendidikan Langkat. Ya, pihak kita akan melakukan investigasi terlebih dulu atas dugaan tersebut,”papar salah satu petinggi DPP LM-PEKA saat menyoroti kinerja Sekdis Pendidikan Langkat, Kamis (05/02/2026).
Sementara itu, RHG dan ZA, S. Pd, saat dikonfirmasi wartawan pada Sabtu, (05/02/2026), tentang dugaan pengadaan buku dan sebagainya di Dinas Pendidikan Langkat belum menjawab.
Jurnalis juga mempertanyakan tentang kedekatan Sekdis dengan salah satu jendral Polisi, yang diduga orang dekatnya. RHG juga belum menjawab.
Tak hanya itu, salah satu kepsek inisial AS juga diduga ikut serta melancarkan aksinya dengan melakukan hal yang sama dengan diduga Sekdis. AG, ZA yang juga kepsek diduga orang suruhan Sekdis tersebut.
“Kemarin sempat mereka menghadap ke sejumlah pejabat Kabupaten Langkat untuk melancarkan aksinya. AS ini juga dalam sorotan DPP L-M PEKA, disebut-sebut salah satu keluarganya salah satu jendral Bintang di Kepolisian RI.
“Jika kami tidak ikut komando beliau. Kami langsung di intimidasi dengan memerintahkan orang suruhannya dari APH untuk melakukan pemeriksaan. Sudah berapa kali kami diperiksa, kami takut jika terus di intimidasi,”ujar sejumlah guru.













