Sementara itu, The Landmark Cases of Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra (Prof. Dr. Fitra Arsil & Dr. Qurrata Ayuni, 540 halaman) mendokumentasikan perkara-perkara konstitusional penting yang pernah melibatkan Prof. Yusril. Melalui kasus-kasus tersebut, pembaca diajak memahami bagaimana argumentasi hukum dapat mengubah tafsir undang-undang dan memengaruhi arah perkembangan hukum tata negara Indonesia.
Sisi personal dan relasional Prof. Yusril tergambar dalam Lebih Dekat dengan Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra: Pandangan Tokoh dan Sahabat (Randy Bagasyudha dkk., 112 halaman). Kesaksian para sahabat dan tokoh menghadirkan potret tentang konsistensi, keberanian, dan kesetiaan pada prinsip, yang sering kali justru paling terasa dalam relasi personal.
Penutup rangkaian buku ini dihadirkan melalui Di Mana Bumi Dipijak: Novel Biografis (Andre Syahreza, 188 halaman). Dengan pendekatan sastra, novel ini mengajak pembaca menelusuri perjalanan hidup Prof. Yusril sebagai manusia-dari kampung pesisir di Belitung hingga pusat kekuasaan negara–seraya menegaskan bahwe ketinggian posisi tidak pernah boleh mencabut seseorang dari nilai-nilai tempat ia berpijak.
Seluruh buku dicetak dalam jumlah lebih dari 1.000 eksemplar dan juga tersedia dalam format igital, sehingga dapat diakses secara luas oleh pembaca nasional maupun internasional. Secara kolektif, karya-karya ini menjadi warisan intelektual tak benda bag Indonesia.
Peluncuran delapan buku ini menjadi pengingat bahwa warisan terpenting seorang negarawan bukanlah jabatan, melainkan gagasan, keteladanan, dan keberaniar menjaga prinsip. Di tengah perubahan zaman dan dinamika politik yang cepat, buku-buku ini diharapkan menjadi ruang belajar bersama–bagi generasi hari ini dan generasi yang akan datang–tentang bagaimana ilmu, kekuasaan, dan etika dapat berjalan beriringan.
Zainal













