Senada dengan itu, aktivis perlindungan anak, Tri Utomo, turut menyuarakan keprihatinannya. Ia menyoroti dugaan adanya aktivitas yang melibatkan perempuan-perempuan di bawah umur yang kerap keluar masuk tempat hiburan malam tersebut. Menurutnya, hal ini menjadi alarm serius bagi pemerintah dan aparat penegak hukum.
“Jika benar ada anak di bawah umur yang masuk dan beraktivitas di sana, ini sudah masuk ranah pelanggaran serius. Pemerintah daerah dan aparat harus segera turun tangan untuk melakukan pendataan dan pengawasan ketat,” ujar Tri Utomo.
Ia menambahkan bahwa keberadaan tempat hiburan malam harus tunduk pada aturan yang berlaku, baik dari sisi perizinan, jam operasional, maupun aspek perlindungan anak. Jika ditemukan pelanggaran, Tri meminta agar pemerintah tidak ragu menjatuhkan sanksi tegas, termasuk pencabutan izin usaha.
Masyarakat pun berharap aparat penegak hukum dan pemerintah daerah dapat segera mengambil langkah konkret atas berbagai laporan dan keluhan tersebut, bahkan jika Polres Pematangsiantar tidak mampu menanganinya diharapkan Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Utara, Irjen Pol Whisnu Hermawan Februanto, S.I.K., M.H segera turun tangan memerintahkan jajarannya agar lebih optimal. Penanganan yang serius dan berkelanjutan dinilai penting agar Kota Pematangsiantar benar-benar terbebas dari peredaran narkoba, serta menjadi lingkungan yang aman dan sehat bagi generasi muda.(rel)













