“Etika jurnalistik bukan formalitas. Ia adalah fondasi demokrasi. Ketika etika dikorbankan demi kepentingan, sensasi, atau kedekatan kekuasaan, yang runtuh bukan hanya kredibilitas media, tetapi juga kepercayaan publik,” kata Oloan.
Menutup pandangannya, Oloan Simbolon menegaskan bahwa Hari Pers Nasional harus dimaknai sebagai momentum koreksi diri bagi insan pers. Ia mengingatkan bahwa pers memiliki kekuasaan simbolik yang besar dalam membentuk persepsi publik terhadap kekuasaan dan kebijakan negara.
“Di tengah arus informasi yang semakin bising dan manipulatif, pers dituntut untuk menghadirkan kejernihan, bukan ikut menambah kebisingan. Hanya pers yang benar-benar merdeka, beretika, dan berpihak pada kebenaran yang mampu menjaga demokrasi tetap hidup,” pungkasnya. ( rit/hot)













