Ronny juga mendesak pihak inspektorat Aceh Timur segera turun ke lapangan untuk mengecek dan mengaudit dua BUMD perkebunan sawit pemda itu, agar lebih accountable dan akurat antara data dan fakta di lapangan.
” Kami juga meminta agar inspektorat segera turun ke lapangan mengecek dan mengaudit dari kondisi kebun hingga ke berapa batang jumlah sebenarnya sawit produktif di sana, sehingga singkron bagi pendapatan daerah, agar PAD nya tidak ditentukan dengan cara asal tebak saja,” sebut eks Ketua Forum Pers Independent Indonesia (FPII) Provinsi Aceh itu
Dia juga berharap mantan direktur PT Beurata Maju yang kini menjalani proses hukum berani bersuara dan membongkar semua yang diketahuinya, sehingga mengungkap tabir yang sebenarnya.
Dia juga membocorkan bahwa kemungkinan adanya penasehat hukum yang akan mendampingi sang direktur, agar terungkap fakta yang sebenarnya hingga semua yang terlibat ditangkap.
” Saya dengar informasi dia nanti ada penasehat hukumnya, kemungkinan ada LBH lain yang bakal mendampingi, agar si tersangka itu berani buka suara, dan sampai semua yang terlibat di dua BUMD itu bisa ditangkap dan diseret ke pengadilan,” ungkap Ronny.
Ronny mengaku sangat berharap suatu saat nanti dua BUMD sawit milik pemda Aceh Timur itu bisa bersih dari KKN, dan bisa dijalankan secara profesional layaknya perusahaan perkebunan sawit lainnya, sehinga bisa menguntungkan daerah dan masyarakat melalui PAD yang sehat.
” Kita sangat berharap kedepan dua BUMD sawit itu bisa bersih dan sehat tanpa cacat, dan saya sangat yakin itu bisa dilakukan, tentunya melalui sikap profesional penegak hukum dan aparat birokrat yang profesional, sehingga bisa bermanfaat bagi daerah dan masyarakat, meski pun tidak begitu besar, tapi bisa jadi kebanggaan untuk kita semua,” pungkas alumni Universitas Ekasakti itu menutup keterangannya.
Zainal













