Diperkirakan selama empat malam iktikaf tersebut jumlah jamaah dapat mencapai sekitar 5.000 orang.
Dalam perspektif sosial keagamaan, sikap yang ditunjukkan Yuslin Siregar sesungguhnya mencerminkan etika kepemimpinan yang penting dalam pengelolaan rumah ibadah.
Penghormatan kepada para dermawan tidak dimaknai sebagai bentuk pengagungan kepada individu, melainkan sebagai pengakuan atas peran kolektif umat dalam memakmurkan masjid.
Tradisi ini juga sejalan dengan ajaran Islam yang menempatkan sedekah dan infak sebagai amal jariyah yang pahalanya terus mengalir.
Yang menarik, dalam proses penggalangan dana, Yuslin Siregar tidak hanya mengajak orang lain untuk berinfak. Ia memulai dari dirinya sendiri dengan memberikan kontribusi terlebih dahulu, sebuah sikap keteladanan yang sering kali menjadi kunci tumbuhnya kepercayaan.
Dalam banyak tradisi kepemimpinan, teladan personal memang memiliki daya persuasi yang jauh lebih kuat dibanding sekadar imbauan.
Karena itu, apa yang berlangsung di Masjid Agung Medan selama Ramadan ini tidak hanya tentang kegiatan berbuka puasa bersama atau penyediaan makan sahur bagi jamaah iktikaf.
Lebih dari itu, ia memperlihatkan bagaimana solidaritas sosial umat dapat terbangun melalui penghargaan terhadap kebaikan, keteladanan dalam memberi, dan doa yang dipanjatkan bersama.
Di tengah kehidupan modern yang sering kali diwarnai sikap individualistik, praktik sederhana seperti mendoakan para dermawan di hadapan jamaah menjadi pengingat bahwa keberadaan masjid tetap bertumpu pada semangat kebersamaan. Dan selama semangat itu dijaga, masjid tidak hanya akan menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat penguatan nilai-nilai kemanusiaan dan kepedulian sosial di tengah masyarakat (*zulfikar tanjung bersertifikat wartawan utama dewan pers)*













