Ketenangan itulah yang menjadi jawaban atas mengapa ia dan para donatur lainnya bersedia berkontribusi dalam jumlah besar. Bagi mereka, setiap hidangan berbuka yang tersaji, setiap nasi sahur yang dinikmati jamaah iktikaf, bukan sekadar bantuan—melainkan bagian dari amal saleh yang diharapkan diterima Allah SWT.
Dalam suaranya yang tetap tenang, Soelaiman juga menyelipkan harapan besar tentang masa depan umat, khususnya generasi muda.
“Harapan kita, kegiatan seperti ini terus digiatkan, terutama untuk anak-anak muda—pelajar, mahasiswa—agar tumbuh generasi Islam yang kuat, yang bisa membentengi diri dari pengaruh negatif seperti narkoba, dan lebih dekat kepada ibadah,” ujarnya.
Di Masjid Agung Medan, Ramadan tahun ini bukan hanya tentang angka—bukan hanya puluhan ribu jamaah yang berbuka atau ribuan yang beriktikaf.
Lebih dari itu, ia adalah ruang perjumpaan antara keikhlasan dan kebutuhan, antara tangan yang memberi dan hati yang menerima.
Dan di sanalah, seperti yang dirasakan H.T. Soelaiman, kebaikan menemukan maknanya yang paling dalam:
memberi, lalu pulang dengan hati yang tenang
*(zulfikar tanjung bersertifikat wartawan utama dewan pers)*













