MEDAN, Sinarsergai.com – Sengketa pengadaan suku cadang antara PT Surya Sakti Engineering (SSE) dan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) kini dibawa hingga ke lingkaran Istana Negara. PT SSE meminta Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya memberi perhatian dan menyampaikan persoalan tersebut kepada Presiden Prabowo Subianto guna mendorong penyelesaian yang adil dan transparan.
Direktur PT SSE Halomoan H mengatakan, pihaknya telah mengirimkan surat permohonan perlindungan hukum kepada Sekretaris Kabinet agar pemerintah pusat mengetahui persoalan yang dihadapi perusahaannya selama lebih dari dua tahun terakhir.
“Saya menembuskan surat ke Pak Teddy agar beliau mengetahui apa yang dialami PT SSE. Harapannya, persoalan ini bisa mendapat atensi hingga ke Presiden,” ujar Halomoan di Medan, Sabtu, 24 Januari 2026.
Selain kepada Sekretaris Kabinet, surat tersebut juga ditujukan kepada Kepala Badan Pengelola Investasi BUMN Dony Oskaria. Adapun tembusan surat disampaikan kepada Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Ketua Komisi VI DPR RI, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), serta Ombudsman Republik Indonesia.
Dalam surat itu, PT SSE meminta kepastian pembayaran serta transparansi proses pengadaan suku cadang di PT Inalum. Halomoan menyebut perusahaannya telah memasok sejumlah suku cadang sejak 2023, namun hingga kini belum memperoleh kejelasan mengenai status penerimaan barang maupun pembayaran dari pihak Inalum.
Perselisihan bermula dari penolakan Inalum terhadap suku cadang yang disuplai PT SSE dengan alasan perbedaan merek. PT SSE menyatakan telah menjelaskan sejak awal bahwa divisi hoist merek Meidensha telah dialihkan kepada Kito Corporation sejak 20 Oktober 2010, sebagaimana keterangan resmi Meidensha Corporation Jepang. Sejak saat itu, Meidensha tidak lagi memproduksi hoist dan beralih sebagai kontraktor serta konsultan kelistrikan.
Namun, menurut Halomoan, pada Desember 2024 dan Januari 2025, Inalum justru menerima 64 unit brake shoe tanpa bermerek Meidensha dari vendor lain yang diduga sebagai vendor binaan. Kondisi tersebut, kata dia, menimbulkan pertanyaan mengenai konsistensi prosedur penerimaan barang di internal Inalum.













