Gebrakan Heroik Heru Mardiansyah: Mengembalikan Manfaat Dana Haji ke Sumatera Utara – Sinarsergai
Daerah

Gebrakan Heroik Heru Mardiansyah: Mengembalikan Manfaat Dana Haji ke Sumatera Utara

×

Gebrakan Heroik Heru Mardiansyah: Mengembalikan Manfaat Dana Haji ke Sumatera Utara

Sebarkan artikel ini

MEDAN, Sinarsergai.com – Langkah awal kerap menentukan arah kepemimpinan. Dalam konteks itu, apa yang dilakukan Heru Mardiansyah layak dibaca sebagai sebuah gebrakan—bahkan bisa disebut heroik—di fase awal kepemimpinannya di Bank Sumut.

Di tengah kompleksitas tata kelola dana haji yang berada di bawah otoritas BPKH, Heru menyuarakan satu gagasan yang sederhana namun berdampak luas: bagaimana agar dana haji asal Sumatera Utara yang nilainya mencapai sekitar Rp1,2 triliun dapat kembali memberi manfaat langsung bagi daerah.

Gagasan ini bukan sekadar soal angka. Ia menyentuh dimensi keadilan ekonomi daerah.

Bahwa dana yang dihimpun dari masyarakat Sumut idealnya juga berkontribusi terhadap penguatan ekonomi lokal—tentu tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian, keamanan, dan regulasi nasional yang ketat.

Di sinilah letak keberanian itu. Menyampaikan aspirasi kepada pengelola dana nasional bukan perkara mudah.

Dibutuhkan pemahaman regulasi, kepercayaan diri institusional, sekaligus visi yang melampaui rutinitas administratif. Heru tampak membaca ruang tersebut dengan cermat.

Lebih menarik lagi, langkah ini tidak berdiri sendiri. Dukungan dari Bobby Nasution memberikan bobot politik dan moral yang signifikan.

Sinergi antara kepala daerah dan pimpinan bank daerah mencerminkan kesamaan visi: memperkuat peran institusi lokal dalam mengelola potensi ekonomi daerah.

Dalam perspektif lebih luas, apa yang diperjuangkan ini sejalan dengan semangat desentralisasi ekonomi.

Daerah tidak lagi hanya menjadi sumber penghimpun dana, tetapi juga bagian dari ekosistem pengelolaan yang produktif. Tentu, semua itu tetap berada dalam koridor aturan yang ditetapkan.

Pernyataan Acep Riana Jayaprawira dari BPKH yang membuka ruang berdasarkan kinerja perbankan menjadi titik penting.

Artinya, peluang itu ada—namun harus dijawab dengan kapasitas dan kredibilitas. Ini sekaligus menjadi tantangan bagi Bank Sumut untuk terus memperkuat tata kelola, meningkatkan kinerja, dan membangun kepercayaan.

Di sinilah makna “heroik” itu menemukan konteksnya. Bukan dalam arti dramatis, melainkan sebagai keberanian memulai.

Sebuah langkah awal yang berupaya menggeser perspektif: dari sekadar menjalankan fungsi sebagai bank penerima setoran, menjadi institusi yang ingin mengambil peran lebih besar dalam siklus manfaat ekonomi.

Jika konsistensi ini terjaga, bukan tidak mungkin langkah tersebut menjadi titik awal perubahan yang lebih luas.

Bahwa bank daerah dapat tampil sebagai aktor penting dalam pengelolaan dana strategis, sekaligus menjadi penggerak pembangunan.

Pada akhirnya, publik akan menilai bukan hanya dari gagasan, tetapi dari realisasi. Namun satu hal yang pasti, gebrakan awal ini telah mengirimkan pesan kuat: bahwa kepemimpinan baru di Bank Sumut tidak memilih jalan biasa-biasa saja (*zulfikar tanjung bersertifikat wartawan utama dewan pers)*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *