Lebih jauh ia juga meminta Gubsu membeberkan secara transparan kepada khalayak kenapa Prof Wan Syaifudin mengundurkan diri dari kursi Kepala Dinas Pendidikan Sumut secara tiba-tiba.
“Kalau cuma beliau mengaku ingin mengabdikan diri ke kampus sebagai home basenya, kok agak klise ya alasannya?. Harusnya sebelum dia menyatakan mundur, dia harus memaparkan apa-apa saja pekerjaan yang selama ini dilakukannya dan proyek apa saja yang digelontorkannya beserta anggarannya. Misalnya saja apa tanggungjawab dia soal kelanjutan kampung beasiswa. Jangan main mundur-mundur saja terus lepas tanggungjawab. Bisa saja selama dia memimpin yang memunculkan sorotan BPK?. Setiap asumsi kan sah-sah saja saya rasa,” sebutnya.
Dikatakannya, selama ini ada pungli rotasi kepala sekolah. Sekalipun itu isu kan harusnya ini harus tetap diselidiki kebenarannya. Tapi kan ini tidak, setelah BPK menyoroti baru Gubsu sibuk mengancam mau mengganti semua jajaran di Disdik Sumut. Ini kan sama saja menepuk air di dulang terpercik muka sendiri.
Sebelumnya, Edy mengatakan Dinas Pendidikan Sumut yang paling disoroti oleh BPK. Menurutnya, pengelolaan uang Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tidak dilakukan dengan baik. “Yang pasti jelek sekali kinerja, masalah uang DAK, DAU, BOS, dia buruk sekali,” tutur Edy.
“Dinas Pendidikan,” jawab Edy saat ditanya Dinas mana yang kerjanya paling buruk.
Mantan Pangkostrad itu mengaku sudah meminta agar hal ini menjadi evaluasi. Edy mengancam akan mengganti seluruh pejabat di Dinas Pendidikan jika tidak mampu memperbaiki hal ini. “Saya sudah perintahkan, ini segera evaluasi. Kalau perlu, satu dinas kita ganti semua, kalau memang harus,” jelasnya.(AC/relis)





