Lebih Ianjut ia meminta pemerintah dan DPRA Aceh agar menuntaskan persoalan Mou Helsinky sepenuhnya salah satunya persoalan terkait Qanun bendera Aceh dan lambang Aceh yang sudah disahkan oleh DPRA supaya jelas agar tidak selalu abu-abu di tengah masyarakat Aceh begitu juga terkait pelanggaran HAM agar segera dituntaskan”ujar Eks Presiden Mahasiswa STIS tersebut
Razali (Nyak Lie) Aktivis Aceh Timur yang juga putra daerah Darul Aman yang turut hadir dalam bakti sosial tersebut memberikan apresiasi kepada masyarakat dan KPA Sagoe Meja Ijoe yang masih melakukan bakti sosial dan menjaga sejarah tragedi bersimbah darah yang pernah terjadi di Darul Aman sebab di balik Monument Tragedi Simpang Kuala Idi Cut (Arakundo) tersimpan tragedi pembantaian rakyat sipil yang sudah menjadi perhatian dunia Uni Eropa.
Lebih lanjut Nyaklie meminta agar Pemerintah Aceh membangun monument di setiap titik tragedi pembataian masal yang pernah terjadi di Aceh untuk dokumentasi sejarah kepada generasi Aceh kedepan dan setiap monument bersejarah di Aceh agar di rawat dengan baik”ungkap Aktivis Aceh Timur tersebut.(Zbn)





