Museum ini juga dilengkapi QR sebagai media pendukung dan penguat narasi atau koleksi museum dalam bentuk video, e-book, narasi panjang, foto-foto dan yang terpenting adalah virtual tour yang bisa diaksea melalui handphone dengan menscan barcode QR.
Lebih lanjut Gubsu memaparkan negeri ini merdeka bukan atas pemberian atau karena fasilitas kaisar. “Indonesia adalah negara yang diperjuangkan direbut dari penjajah,” tegasnya.
Semua dokumen dan bukti-bukti kepahlawanan anak bangsa sesepuh negara ini semuanya lengkap dan otentik, kata Gubsu. Semua dunia tau dan menjadi saksi heroik kemerdekaan itu.
“Sekarang penjajahnya sudah tidak ada lagi. Namun dengan mempelajari sejarah maka kita akan mengetahui bagaimana sesungguhnya intrik penjajahan itu sehingga kayaknya kita faham Indonesia belum keluar sepenuhnya dari penjajahan,” ujarnya.
Dengan pemahaman dan pengetahun kesejarahan itu maka generasi milineal bersama konponen bangsa akan terpanggil untuk bersatu padu, katanya untuk mengisi kemerdekaan.
“Apabila kemerdekaan sudah terisi barulah berarti penjajahan sudah selesai. Kalau anak muda mengerti sejarah maka kuat hatinya mencintai bangsa ini dan inilah kemerdekaan,” tegas Gubsu.
Gubsu mengapresiasi museum ini apalagi dengan ini maka selain koleksi baru maka koleksi yang sudah dikumpulkan para pejuang Angkatan 45 yang selama 30 tahun dititipkan di Museum Negeri Sumut dapat ditampilkan kembali di Gedung Juang 45.
Hasyim juga menjelaskan Dewan Harian Daerah 45 Sumut oleh para pendahulunya 31 tahun lalu pernah ada museum di Gedung Juang. Setelah itu tidak ada lagi. Dan ini kembali direvitalisasi dengan memadukan teknologi informasi.(R-04/ril)





