Menurut Kadis generasi milenial saat ini kemampuan intelektualitasnya dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi tidak diragukan lagi. Bahkan ada indikasi kecerdasan intelektual mereka bisa melampaui para guru.
Hanya saja kekuatan karakter kebangsaan dan nasionalisme mereka masih harus dibina. Padahal ketika karakter itu keluar dari akar yang sesungguhnya maka tinggal menunggu rubuhnya suatu bangsa.
“Salah satu metode membangun karakter itu melalui sejarah. Jadi sejarah harus menjadi salah satu materi pokok bagi pelajar untuk membangun karakter mereka,” ujarnya.
Asren menggambarkan begitu pentingnya doktrin sejarah sehingga di TNI pengkajian sejarah menempati posisi sangat strategis. Bahkan di TNI AD pengkajian sejarah menempati tempat tersendiri cukup tinggi dipimpin perwira tinggi.
“Melalui jalur sejarah kita mempunyai wadah untuk ‘mengawal’ katakter generai milenial jangan sampai tergerus sedikit pun demi keutuhan bangsa Indonesia masa depan,” ujarnya.
Kadis berulang mengingatkan semua yang berada pada posisi dan tatanan kenegaraan terutama guru dan pejabat pemerintah saat ini akan disebut gagal apabila generasi mendatang tergerus karakter kebangsaannya.
Itulah sebabnya lanjut Asren pihaknya sangat mengapresiasi program DHD 45 yang membangkitkan nilai-nilai sejarah dengan konteks kekinian bagi generasi milenial maupun generasi ‘y’ dan ‘z’. Kegiatan DHD 45 ini strategis dan fundamental.(MD/ril)





