Kendala-kendala lain yang membuat perempuan korban KDRT tidak berani melapor, termasuk factor ekonomi, pertimbangan anak dan masa depan anak serta stigma masyarakat yang sangat negatif terhadap status janda cerai hidup.
Sementara suara generasi muda yang hadir dalam diskusi bertema “KDRT di Sekitar Kita, Sadarkah Kita?” yang diawali dengan preview film Suamiku, Lukaku, meminta khusus kepada para ibu yang mengalami KDRT agar tidak segan-segan menyampaikan kekerasan yang dialaminya dan tidak takut membuat keputusan untuk bercerai.
Menurut Carolina Simanjuntak dari ASB, preview film Suamiku, Lukaku telah menunjukkan berbagai bentuk KDRT, termasuk kekerasan fisik, psikis, kekerasan seksual dalam pernikahan, dan kekerasan ekonomi karena ketimpangan sosial ekonomi di rumah tangga.
Para penyintas mengapresiasi film Suamiku, Lukaku yang dianggap mewakili suara para penyintas dan para korban yang masih berjuang. Dari diskusi tersebut para penyintas menyampaikan bahwa perempuan perlu memilki kawan-kawan lain yang dapat mendukung dan mendengar persoalannya.
“Adakah kesulitan dalam membuat film ini? Pasti. Membuat adegan-adegan seperti di film ini tidak mudah…di dalam film ini kami menggunakan coach khusus untuk adegan intimacy dan KDRT-nya,” jelas Viva Westi terkait proses pembuatan film Suamiku, Lukaku.
Sementara Lia Nathalia sebagai Ketua Komunitas Berkebaya (KPB) menyampaikan apresiasinya atas antusias para peserta diskusi.
“Kegiatan edukasi terkait KDRT dengan preview film Suamiku, Lukaku dari SinemArt di Medan ini sangat luar biasa karena para peserta diskusi beragam dari segi usia, jenis kelamin, profesi, suku bangsa dan agama menjadikan diskusi berlangsung interaktif. Melalui kegiatan edukasi ini, pesan jelas untuk berhenti menormalisasi KDRT dan jangan diam menghadapi KDRT,” kata Lia.
Latar Belakang
Film dengan Tujuan
Disutradarai oleh Viva Westi dan Sharad Sharan, Suamiku Lukaku diperkuat oleh jajaran pemain ternama, di antaranya Ayu Azhari, Acha Septriasa, Baim Wong, Raline Shah, dan Mathias Muchus.













