MEDAN, Sinarsergai.com – “Mencari Modal untuk Pulang”. Kalimat itu diucapkannya ringan, hampir tanpa tekanan.
Namun justru di situlah letak getarnya. “InsyaAllah ini modal kita untuk pulang.”
Pulang—yang ia maksud bukan ke rumah selepas berbuka, bukan pula ke kampung halaman selepas Ramadan. Pulang yang ia maksud adalah kembali kepada Allah SWT.
Selama dua belas hari berturut-turut Ramadan 1447 H, saya menyaksikan langsung bagaimana kalimat itu menemukan bentuknya dalam tindakan.
Di halaman dan ruang lantai dasar Masjid Agung Medan, di antara ribuan mangkuk bubur berbuka, deretan gelas air mineral, dan wajah-wajah jamaah yang menunggu azan magrib, ada satu sosok yang hampir tak pernah absen: Sekretaris Badan Kenaziran dan Wakaf Masjid Agung Medan, H. Yuslin Siregar.
Ia bukan berdiri di mimbar. Ia tidak duduk di kursi. Ia tidak memberi komando dengan suara keras. Tetapi kehadirannya terasa dalam setiap sudut persiapan berbuka.
Sejak hari pertama Ramadan, ia sudah berada di tengah-tengah petugas. Memeriksa ketersediaan makanan, memastikan distribusi takjil berjalan teratur, menanyakan kesiapan air minum, hingga memperhatikan jalur masuk jamaah agar tak berdesakan.
Ketika jumlah jamaah meningkat, bahkan memecahkan rekor lebih dari 1.100 orang pada hari ke-11, ia tetap pada ritme yang sama: turun langsung, membaur, memastikan tak ada yang terabaikan.
Di sela kesibukan itu, ia kerap berhenti sejenak. Bukan untuk beristirahat, melainkan untuk mengamati. Seolah ia sedang menghitung bukan hanya jumlah piring, tetapi juga tanggung jawab.
*(Amanah)*
Bagi kenaziran, kegiatan ini bukan sekadar agenda rutin Ramadan. Ini adalah amanah.
Dan amanah itu nilainya tidak kecil.
Jika dihitung untuk keseluruhan kegiatan berbuka puasa selama sebulan penuh ditambah penyediaan makan sahur bagi jamaah iktikaf pada malam-malam ganjil sepuluh hari terakhir, anggaran yang dibutuhkan mendekati Rp 300 juta.
Angka yang besar. Sangat besar untuk ukuran kegiatan sosial berbasis donasi.
Namun yang menarik, sebelum Ramadan 1447 H benar-benar dimulai, komitmen dana itu sudah hampir sepenuhnya tergambar. Di sinilah ketokohan itu menemukan wujudnya.













