Bagi jurnalis, peran ini bukan sekadar bertanya lalu pergi. Setiap liputan adalah jejak karya jurnalistik yang meninggalkan catatan publik. “Ketika pers dihargai, bukan hanya pers yang dimuliakan,” kata Simbolon, “tetapi masyarakat luas yang sedang diajak percaya pada institusi.”
Refleksi ini mengingatkan bahwa demokrasi yang sehat, seperti adat yang kokoh, tumbuh dari relasi setara, saling menghormati, dan keberanian untuk terbuka. Pers, sunyi namun kritis, tetap menjadi penyangga bagi tata kelola yang akuntabel—bukan sebagai tamu terakhir, tetapi sebagai mitra strategis. ( red )













