MEDAN, Sinarsergai.com – Ada satu hal menarik yang mungkin luput dari perhatian, tetapi konsisten terlihat dalam setiap doorstop Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution.
Baik dalam wawancara yang sudah dipersiapkan maupun saat dicegat wartawan secara dadakan—di Kantor Gubernur, di sela-sela acara resmi, bahkan ketika agenda belum sepenuhnya usai—selalu tampak satu sosok berdiri setengah langkah di belakang Gubernur: Pj Sekdaprov Sumatera Utara, Sulaiman Harahap.
Ia tidak menonjol. Tidak memotong. Tidak pula mengambil alih panggung. Namun kehadirannya terasa nyata—tenang, siaga, dan penuh kesiapan.
Dalam setiap doorstop, Sulaiman Harahap terlihat menyimak dengan saksama setiap pertanyaan wartawan, kata demi kata. Tatapannya fokus, gesturnya terkendali. Ia juga mencermati dengan teliti setiap jawaban Gubernur, seolah sedang membaca alur dialog yang sudah ia pahami betul.
Pada momen-momen tertentu, ketika Bobby Nasution menyentuh aspek administratif, regulasi, atau kebijakan yang telah ditetapkan, Gubernur kerap melirik ke arahnya dan melontarkan satu kalimat kunci: “Ya kan, Pak Sekda?”
Di situlah peran Sulaiman Harahap bekerja—bukan di depan kamera, tetapi di balik kelancaran informasi.
Dengan cepat dan nyaris tanpa terlihat, ia membisikkan data administratif yang relevan: nomor surat, status kebijakan, dasar hukum, hingga pasal-pasal peraturan yang menjadi pijakan keputusan.
Data itu bisa berupa surat yang telah ditandatangani Gubernur, kebijakan yang sedang berjalan, atau ketentuan hukum yang harus ditegaskan agar pernyataan kepala daerah tetap presisi dan akurat.
Hasilnya, jawaban Gubernur mengalir lancar, terukur, dan solid secara administrasi.
*(Administrator Andal)*
Fenomena ini bukan sekadar soal teknis doorstop. Ia mencerminkan satu hal yang lebih mendasar: kepemimpinan administratif yang matang dan relasi kerja yang saling percaya.
Bobby Nasution dikenal sebagai kepala daerah dengan gagasan besar, cepat merespons isu, dan berani tampil langsung di hadapan publik.
Namun, dalam sistem pemerintahan modern, keberanian dan visi harus ditopang oleh ketepatan administrasi.
Di titik inilah Sulaiman Harahap memainkan perannya sebagai backbone birokrasi—administrator yang memastikan setiap pernyataan publik kepala daerah berdiri di atas dasar yang sah, rapi, dan bisa dipertanggungjawabkan.
*(Perjalanan Panjang)*
Sikap siaga penuh Sulaiman Harahap ini bukan muncul tiba-tiba. Ia terbentuk dari pengalaman panjang mendampingi Bobby Nasution sejak di lingkungan Pemerintah Kota Medan.
Bertahun-tahun berada dalam ritme kerja yang cepat dan penuh tekanan membuatnya memahami pola komunikasi Gubernur, membaca isyarat nonverbal, bahkan menangkap kebutuhan informasi sebelum diminta secara verbal.
Ketika Bobby melirik, Sulaiman tahu apa yang harus disiapkan.
Menariknya, dalam semua itu, Sulaiman Harahap tidak pernah tampak ingin menonjolkan diri. Ia tidak berebut mikrofon, tidak tampil memberi pernyataan tambahan kecuali diminta, dan tidak menggeser pusat perhatian dari Gubernur.
Justru di situlah kekuatannya. Ia memahami bahwa peran Sekretaris Daerah bukanlah menjadi figur utama, melainkan memastikan figur utama dapat bekerja optimal.
Dalam perspektif tata kelola pemerintahan, sikap ini menggambarkan seorang administrator sejati. Sekdaprov bukan hanya pengendali birokrasi di balik meja, tetapi juga guardian akurasi kebijakan di ruang publik.
Setiap jawaban kepala daerah yang akurat akan membangun kepercayaan publik; setiap kekeliruan administratif justru bisa menjadi celah kritik.
Dengan kesiapsiagaan seperti ini, risiko itu diminimalkan.
Lebih jauh, pemandangan ini juga memperkuat citra kepemimpinan Bobby Nasution. Gubernur terlihat percaya diri, tenang, dan nyaman menghadapi wartawan kapan pun dan di mana pun.
Ia tahu bahwa di belakangnya ada sistem yang siap mem-back secara administratif dan regulatif. Kombinasi ini membuat komunikasi publik Pemerintah Provinsi Sumatera Utara terasa lebih tertata dan meyakinkan.
Pada akhirnya, apa yang kita lihat dalam doorstop itu bukan sekadar rutinitas wawancara. Ia adalah etalase kecil dari cara kerja pemerintahan: visi di depan, sistem di belakang; pemimpin yang berbicara, administrator yang memastikan setiap kata memiliki pijakan.
Dan dalam etalase itu, Sulaiman Harahap hadir sebagai figur yang mungkin jarang disorot kamera, tetapi justru memastikan setiap sorotan publik terhadap Gubernur Bobby Nasution jatuh pada informasi yang benar, utuh, dan dapat dipertanggungjawabkan. Sebuah peran sunyi, namun menentukan—yang menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak selalu tentang tampil, melainkan tentang kesiapan mendampingi setiap saat (*zulfikar tanjung bersertifikat wartawan utama Dewan Pers)*













