Tak kalah penting, Faisal Hasrimy juga menempatkan fasilitas kesehatan tingkat pertama—puskesmas dan klinik—sebagai fondasi sistem.
Selama bertahun-tahun, FKTP kerap dipandang sekadar pintu masuk administratif.
Kini, melalui penguatan layanan dasar, FKTP didorong menjadi filter utama agar rumah sakit fokus pada kasus-kasus yang memang membutuhkan layanan lanjutan.
Namun, keberanian paling menentukan justru terlihat pada komitmen menjaga mutu. Peringatan kepada rumah sakit mitra yang tidak memenuhi standar layanan mengirimkan pesan tegas: UHC tidak boleh menjadi alasan untuk menurunkan kualitas pelayanan. Akses luas harus berjalan seiring dengan disiplin standar.
Pada akhirnya, UHC Bobby Nasution tidak hanya ditopang oleh keputusan politik, tetapi oleh kerja teknokratis yang konsisten.
Di titik ini, kepemimpinan Dr Faisal Hasrimy memperlihatkan bahwa kebijakan populis dapat tumbuh menjadi sistem yang matang—asal dikawal dengan data, ketegasan, dan kesetiaan pada tujuan pelayanan publik.
Jika fase pertama UHC adalah keberanian, maka fase kedua adalah kedewasaan dalam mengelola keberhasilan itu sendiri (*Penulis Zulfikar Tanjing bersertifikat Wartawan Utama Dewan Pers)*













