Dalam konteks Aceh hari ini, langkah membatalkan atau mengevaluasi kembali Pergub Aceh Nomor 2 Tahun 2026 justru dapat menjadi momentum politik yang penting. Bagi Mualem sebagai pemegang mandat dan kekuasaan pemerintahan saat ini, keputusan tersebut bukan hanya akan menjadi vitamin bagi masyarakat Aceh di tengah kondisi ekonomi yang sedang lesu, tetapi juga menjadi “dopamin sosial” yang menghilangkan kecemasan rakyat terhadap biaya pengobatan.
Sebab di tengah tekanan ekonomi, ketakutan terbesar masyarakat kecil bukan hanya soal pendapatan yang berkurang, tetapi ketika ada anggota keluarga yang sakit sementara biaya rumah sakit terasa tidak sanggup dijangkau. Dalam situasi seperti itu, kehadiran negara melalui JKA menjadi sumber rasa aman yang sangat penting bagi rakyat bawah.
Persoalan ini menjadi sangat sensitif karena menyentuh langsung lapisan masyarakat bawah yang selama ini menjadi basis emosional dan politik Partai Aceh. Ketika rakyat mulai merasa dipersulit untuk mendapatkan layanan kesehatan, maka narasi keberpihakan kepada rakyat perlahan akan kehilangan makna di mata masyarakat.
Secara politik, dampaknya bisa sangat serius. Basis akar rumput yang selama ini loyal bukan mustahil berubah menjadi apatis. Generasi muda Aceh yang mulai kritis juga akan melihat apakah kekuasaan benar-benar digunakan untuk melindungi rakyat, atau sekadar mempertahankan pengaruh elite. Dalam politik modern, kehilangan kepercayaan publik jauh lebih berbahaya daripada kehilangan jabatan sementara.
Partai Aceh seharusnya memahami bahwa mempertahankan JKA bukan hanya soal kebijakan kesehatan, tetapi soal menjaga hubungan emosional dengan rakyat. Sebab masyarakat bawah tidak mengingat siapa yang paling sering tampil di baliho. Mereka mengingat siapa yang membantu mereka ketika sakit, ketika keluarga mereka membutuhkan rumah sakit, dan ketika hidup sedang sulit.
Jika polemik Pergub Aceh Nomor 2 Tahun 2026 terus dibiarkan tanpa arah yang jelas, maka kerusakan politiknya bisa berlangsung panjang. Bukan tidak mungkin, suatu hari nanti rakyat akan melihat bahwa yang perlahan melemah bukan hanya program kesehatan, tetapi juga marwah perjuangan Partai Aceh itu sendiri.













