Pimpinan KBIHU Jabal Noor, KH Zulfiqar Hajar, menyebut pelayanan haji tahun ini sebagai sesuatu yang “cukup luar biasa”. Ia mengaku baru kali ini melihat jamaah menerima kartu Nusuk secara langsung sebelum keberangkatan.
Apresiasi seperti ini menjadi penting karena datang dari pihak yang selama bertahun-tahun terlibat langsung dalam pendampingan jamaah.
Artinya, perubahan yang terjadi bukan sekadar pencitraan administratif, tetapi benar-benar dirasakan oleh pengguna layanan.
Dalam konteks yang lebih luas, keberhasilan penyelenggaraan haji juga menunjukkan bagaimana pola hubungan antara pemerintah daerah dan instansi vertikal dapat berjalan harmonis ketika dibangun dengan orientasi pelayanan.
Di Sumatera Utara, sinergi itu terlihat antara Pemprov Sumut, Kanwil Kemenhaj, PPIH Embarkasi Medan, hingga dukungan berbagai lembaga pendukung lainnya.
Situasi ini secara tidak langsung ikut mengangkat citra pemerintahan Bobby Nasution. Publik melihat adanya tata kerja yang lebih rapi, responsif, dan modern dalam salah satu pelayanan publik paling sensitif bagi masyarakat Muslim.
Di tengah dinamika sosial dan tingginya ekspektasi masyarakat terhadap birokrasi, keberhasilan menjaga kelancaran pemberangkatan ribuan jamaah hingga Kloter 16 bukan pekerjaan sederhana.
Dibutuhkan kepemimpinan yang mampu mengendalikan ritme kerja, menjaga koordinasi, sekaligus menghadirkan solusi cepat di lapangan.
Karena itu, momentum haji tahun ini menjadi lebih dari sekadar agenda tahunan keberangkatan jamaah. Ia telah berubah menjadi etalase pelayanan publik Sumatera Utara—di mana nama Bobby Nasution mendapat penguatan citra kepemimpinan, sementara Zulkifli Sitorus tampil sebagai figur birokrat lapangan yang mulai mencuri perhatian melalui pendekatan kerja yang tenang, teknis, namun berdampak nyata.
Dengan tinggal menyisakan satu kloter terakhir, publik tentu berharap kualitas pelayanan ini tidak berhenti sebagai momentum musiman. Sebab kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah sesungguhnya dibangun dari pengalaman langsung—dan pada musim haji tahun ini, pengalaman itu tampaknya berhasil dijaga dengan cukup baik oleh Sumatera Utara (*penulis zulfikar tanjung bersertifikat wartawan utama dewan pers)*













