Aceh Timur,Sinaraergai.com – Puluhan warga dan unsur Komite Peralihan Aceh (KPA) Sagoe Meja Ijoe,Kecamatan Darul Aman, Kabupaten Aceh Timur, melaksanakan bakti sosial. Kegiatan tersebut diselenggarakan dalam rangka memperingati 17 tahun Mou Helsinky. Masyarakat dan KPA Sagoe Meja Ijoe bergotong royong merawat tugu monument sejarah tragedi Simpang Kuala Idi Cut yang merupakan salah satu pelanggaran Hak Azasi Manusia (HAM) yang terjadi saat konflik berkepanjangan di Aceh
Tragedi Simpang Kuala Idi Cut merupakan salah satu tragedi bersejarah yang menyisakan luka mendalam bagi masyarakat Aceh tepatnya pada tanggal 03 February 1999 Ratusan masyarakat sipil dibantai oleh oknum Aparat Keamanan Negara kemudian diangkut dan ditenggelamkan dalam sungai Arakundo,isak tangis ribuan rakyat Aceh kala itu mendampingi evakuasi korban pembantaian di sungai Arakundo hingga air mata ribuan rakyat Aceh menjadi saksi sejarah saat itu.
Pasca pembantaian simpang kuala idi cut ratusan orang tua kehilangan anak tercinta dan ratusan anak-anak kehilangan ayahhanda tercinta kini tragedi air mata tersebut di kenang dengan dibangun sebuah monument Tugu sebagai bukti sejarah berdarah tragedi pembantaian pelanggaran Ham di Aceh,Tugu yang berdiri di simpang kuala idi cut,Desa Matang Pineng tersebut tertanam harapan keadilan meskipun pelaku pelanggaran Ham puluhan tahun masih abu-abu.
Yusaini Anggota Komite Peralihan Aceh(KPA) Sagoe Meja Ijoe Darul Aman mengajak masyarakat dan unsur pemangku kepentingan khususnya di Kecamatan Darul Aman untuk sama-sama merawat dan melestarikan sejarah dan monument sejarah apalagi monument tragedi bersimbah darah yang pernah terjadi dalam konflik Aceh
Lebih lanjut ia mengatakan 17 tahun Mou Helsinky tentunya unsur KPA dan Masyarakat Aceh berharap supaya seluruh butir-butir Mou helsinky terealisasi secepatnya”ujar eks komandan operasi tersebut
Hawalies Abwar Aktivis Aliansi Keadilan Aceh yang turut andil dalam kegiatan tersebut berharap agar pemerintah mengalokasikan anggaran untuk perawatan monument bersejarah di Aceh timur khususnya agar tidak terbengkalai sebab menurutnya didirikan monument tidak lepas dari history yang pernah terjadi





