MEDAN, Sinarsergài.com – Ada sesuatu yang menarik dari cara Penjabat Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Utara, Timur Tumanggor, menyampaikan sambutan ketika mewakili Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution.
Hal itu terlihat pada pembukaan Bulan Bakti Peternakan dan Hari Rabies Sedunia 2026 di Lapangan Astaka Medan, Sabtu (26/9/2026). Dari salam pembuka hingga kalimat penutup, sambutan Timur terasa bukan sebagai panggung untuk menyampaikan gagasan pribadinya.
Ia justru berkali-kali membawa pesan, harapan dan arah kebijakan Gubernur Bobby Nasution. Di situlah menariknya.
Seorang pejabat yang berdiri mewakili kepala daerah sebenarnya memiliki ruang untuk berbicara atas namanya sendiri. Namun Timur memilih menempatkan dirinya sebagai representasi dari pimpinan yang diwakilinya.
Cara seperti ini memperlihatkan apa yang bisa disebut sebagai disiplin komunikasi pemerintahan. Ketika mandat diberikan, yang dibawa bukan ego personal, melainkan pesan institusi.
Bahkan, jika mencermati alur sambutannya, terasa seolah-olah Bobby Nasution yang sedang berdiri di podium. Bukan karena Timur meniru gaya bicara gubernur, melainkan karena substansi yang dibawanya konsisten dengan agenda pemerintahan yang sedang dijalankan.
Di sinilah loyalitas memperoleh makna yang lebih luas. Bukan sekadar loyal kepada seseorang, tetapi loyal terhadap mandat, kebijakan dan tanggung jawab pemerintahan.
Timur seakan memahami bahwa ketika dirinya berdiri sebagai wakil gubernur dalam sebuah acara resmi, panggung tersebut bukan miliknya. Panggung itu adalah milik institusi yang sedang diwakilinya.
Sikap tersebut sekaligus menunjukkan kemampuan seorang birokrat untuk tahu kapan harus menonjolkan diri dan kapan harus berada di belakang mandat pimpinan.
Menariknya, justru ketika dirinya tidak banyak menonjolkan pendapat pribadi, karakter kepemimpinannya sebagai pejabat terlihat. Ada kesadaran posisi, kehati-hatian komunikasi, sekaligus kemampuan menerjemahkan pesan pimpinan kepada masyarakat dan pemangku kepentingan.













