H. Yuslin Siregar tidak sekadar mengajak. Ia memulai.
Sejak awal, ia menyatakan komitmennya secara terbuka, menyebut angka kontribusinya sendiri untuk kegiatan berbuka dan sahur iktikaf.
“Kalau perlu ditambah,” begitu ia sampaikan. Dari contoh itu, muncul respons.
Nama-nama besar kemudian menyatakan kesediaan: H. Musa Idishah (Dodi Anif), H. Indra Utama, H. Teuku Soelaiman, H. Tengku Dzulmi Eldin, H. Suhardi SE Aroma, H. Aldi Subartono, H. Muslim Siregar, H. Chandra Lubis, H. Azis Balatif—dan lainnya.
Ada yang langsung mentransfer, ada yang menyampaikan komitmen lebih dahulu, lalu menunaikannya sebelum Ramadan berjalan jauh.
Sebagian bahkan menambah donasi setelah menyaksikan langsung kesungguhan pelaksanaan.
Kepercayaan itu bukan muncul tiba-tiba. Ia tumbuh dari keyakinan bahwa dana yang dititipkan tersalurkan utuh, transparan, dan tepat sasaran.
Bahwa yang dikerjakan bukan sekadar membagikan makanan, melainkan melayani ibadah umat.
Dan itu terlihat.
Jamaah datang dengan tenang. Mereka berbuka dengan nyaman. Setelah itu, mereka bisa berdiri dalam saf salat Magrib, Tarawih, dan Witir tanpa kegelisahan. Tidak ada kekacauan distribusi. Tidak ada wajah kebingungan mencari makanan. Semua bergerak dalam sistem yang tertata.
*(Modal Pulang)*
Di balik keteraturan itu, ada kerja sunyi yang jarang disorot.
Selama dua belas hari, saya melihat pola yang sama. Ia hadir sebelum jamaah membludak. Ia tetap berdiri ketika sebagian orang mulai beranjak untuk berbuka.
Ia memastikan petugas menjalankan tugas dengan benar. Ia memeriksa sarana dan prasarana. Ia mengoordinasikan, bukan memerintah dari jauh.
Ketika ditanya bagaimana mungkin kenaziran berani menyatakan “siap” meski jamaah terus bertambah, jawabannya sederhana: donasi kegiatan ini sepenuhnya dari para donatur, bukan dari tabung infak rutin masjid.
Artinya, sejak awal, fondasinya sudah disiapkan dengan perhitungan dan keyakinan.
Keberanian itu bukan nekat. Ia berdiri di atas komitmen yang sudah dibangun jauh sebelum Ramadan tiba.
Di titik ini, saya melihat satu hal yang jarang: kepemimpinan yang dimulai dari teladan. Ia memberi contoh lebih dahulu, lalu mengajak.













