Prof DR Sutan Nasomal SH,MH sebagai pemerhati masyarakat ikut menyaksikan : Aksi masa demo damai yang meminta kebijakan sederhana menjadi hal yang sulit di kabulkan. Mahalnya sembako menginjak perut orang kecil yang semakin terlilit hutang untuk bisa makan sepiring nasi hari ini. Apakah ini dampak dari mahalnya ongkos politik sehingga untuk bisa bertahan hidup masyarakat kecil saja sangat sulit. Masyarakat tetap berpenghasilan kecil di antara meroketnya harga harga.
Beban berat dipukulkan ke pundak orang kecil dengan akrobat politik kejam dengan cara cara licik di balik pintu birokrasi yang semakin menjelimet dan harus berani bayar uang pelicin ke banyak oknum dinas yang berhubungan dengan kepentingan online dipusat dan daerah. Sehingga banyak yang mandek perijinan untuk membuat ijin usaha atau pindah alamat karena mahar pelicin harus disetorkan. Maka tercipta kebangkrutan dimana mana akibat gagal pemerintah saat ini mempermudah masyarakat membangun usaha mandiri kecil kecilan akibat sistem online yang ada nilai maharnya.
Kasak kusuk di masing masing kepala daerah lain lagi kebijakannya untuk mendapatkan KAS daerah. Dari merampas motor orang miskin yang tidak mampu untuk bayar pajak atau mengincar pedagang warung pemodal kecil agar wajib bayar pajak daerah. Padahal bayar kontrakan atau bayar listriknya terpaksa berhutang dulu ke Bank Emok (Bank keliling Pinjaman Kecil). Fakta sangat sulitnya mencari uang.
Desil 9 (Golongan berpenghasilan besar) menyasar ke data para tukang becak, Kuli pacul, Lansia jompo atau tukang pulung dimana mana. Kesalahan pencatatan data atau berhemat anggaran tujuannya agar tidak membebankan KAS Daerah dari salah pendataan saat ini.
Kok alasan pendataan selalu tidak akurat di jadikan alasan. Prof DR Sutan Nasomal SH,MH menjadi heran. Padahal selalu ada sensus penduduk dan sensus ekonomi. Mungkin data yang sebenarnya tak pernah sampai ke meja para pemimpin, agar selalu bisa menjadi alasan bahwa rakyat miskin jumlahnya berkurang atau semakin banyak yang kaya mendadak dan tidak sama dengan data yang di miliki pemerhati dari lembaga dunia.













