Modal untuk Kembali Memimpin
Kedewasaan berdemokrasi melengkapi rekam jejak Farianda selama lima tahun memimpin PWI Sumut. Perhatiannya terhadap pendidikan dan profesionalisme wartawan terlihat melalui penyelenggaraan Sekolah Jurnalisme Indonesia serta pelaksanaan Uji Kompetensi Wartawan secara berkelanjutan.
Penguatan organisasi dan pembinaan wartawan di daerah juga menjadi bagian dari agenda kepemimpinannya. Semua itu menunjukkan bahwa pembangunan organisasi tidak cukup dilakukan melalui kegiatan seremonial, tetapi membutuhkan investasi pengetahuan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Tentu, masih terdapat pekerjaan rumah, terutama perlindungan profesi, advokasi, dan kesejahteraan anggota. Namun, kemampuan mengevaluasi kekurangan sekaligus membuka ruang demokrasi merupakan bagian dari kematangan kepemimpinan.
Dalam menentukan pemimpin berikutnya, anggota PWI Sumut tentu memiliki pertimbangan masing-masing. Kapasitas, pengalaman, integritas, dan kemampuan merawat persatuan layak menjadi ukuran utama.
Farianda telah memperlihatkan sejumlah modal penting tersebut. Sikap terbuka menjelang konferensi menjadi nilai tambah yang tidak kalah penting dibandingkan capaian program selama masa kepemimpinannya.
Kita optimistis, kedewasaan berdemokrasi yang ditunjukkannya akan menjadi bagian penting dalam perjalanan menuju konferensi. Jika kembali memperoleh kepercayaan, modal tersebut sekaligus menjadi tanggung jawab untuk membawa PWI Sumut semakin profesional dan solid.
Sebab, pemimpin yang layak melanjutkan kepemimpinan bukan hanya mereka yang mampu membangun program, tetapi juga mereka yang memiliki kebesaran hati untuk menjaga demokrasi dan merawat rumah besar organisasinya. *( penulis zulfikar tanjung bersertifikat wartawan utama dewan pers)*














