MEDAN,Sinarsergai.com – Sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan apresiasi atas dukungan keluarga dan sahabat selama masa studi doktoral serta gelar akademik tertinggi yang diraihnya, Dr. H. Sugiat Santoso, S.E., S.H., M.S.P, menggelar acara syukuran di Le Polonia Hotel, Kota Medan, Jumat (28/8/ 2026).
Pencapaian gelar akademik tertinggi (S3) oleh Dr. H. Sugiat Santoso, S.E., S.H., M.S.P. (Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI, Sekretaris DPD Partai Gerindra Sumut) ini dipandang sebagai prestasi membanggakan dan merayakan tasyakuran kelulusan doktor dari Universitas Sumatera Utara (USU).
Dalam sambutannya, Dr Sugiat Santoso menyatakan pembusukan politik menjadi isu penting dalam dinamika demokrasi Indonesia saat ini. “Pembusukan politik (political decay) harus dihambat karena dapat merusak fondasi demokrasi, memperlemah institusi publik, dan memicu ketidakstabilan sosial ekonomi.
Menurutnya, pembusukan politik itu terjadi ketika kritik yang disampaikan oleh warga negara tidak lagi dipandang sebagai bagian dari demokrasi, melainkan dianggap sebagai ancaman terhadap kekuasaan. Dalam kondisi ini, kritik sering kali ditafsirkan sebagai bentuk kebencian atau upaya menjatuhkan pemerintah.
Akibatnya, tradisi kritik dalam kehidupan demokrasi perlahan menghilang. Setiap perbedaan pendapat dicurigai sebagai gerakan politik yang berpotensi mengganggu stabilitas negara. Padahal, kritik merupakan satu pilar penting dalam menjaga keseimbangan kekuasaan.
Pada kesempatan itu, Kepala Badan Pendidikan dan Latihan Kejaksaan Agung (Kabadiklat Kejagung), Harli Siregar yang menghadiri syukuran wisuda doktor Dr. H Sugiat Santoso SE SH M.SP mengaku bangga bisa hadir di acara syukuran akademik Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI ini.
“Saya bangga bisa hadir dalam acara gelaran akademik seperti ini. Doktor adalah gelar akademik tertinggi. Selamat buat Bang Sugiat Santoso, semoga semakin mumpuni,” ucap Harli dalam kata sambutan.
Harli Siregar mengaku mengenal Sugiat Santoso dengan sosoknya yang sangat familiar. Semua kalangan mampu dirangkulnya. Dari tokoh akademisi, tokoh lintas partai, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, kalangan atas dan bawah, semuanya masuk.













