Ketika Masdar Tambusai Tak Kuasa Mengungkapkan Getaran Batin Melayani Tamu Allah – Laman 2 – Sinarsergai
Daerah

Ketika Masdar Tambusai Tak Kuasa Mengungkapkan Getaran Batin Melayani Tamu Allah

×

Ketika Masdar Tambusai Tak Kuasa Mengungkapkan Getaran Batin Melayani Tamu Allah

Sebarkan artikel ini

Namun saat ditanya lebih jauh tentang pengalaman spiritual yang dirasakannya selama melayani jamaah, Masdar kembali terdiam.

Ia mengaku tidak memiliki cukup kata untuk menjelaskannya.

“Ini tidak bisa diuraikan dengan kata-kata. Perasaan itu melampaui kata-kata,” katanya pelan.

Menurutnya, pengalaman spiritual dalam ibadah haji adalah sesuatu yang hanya dapat dipahami oleh mereka yang pernah merasakannya.

Ia mengibaratkan perasaan itu sebagai getaran batin yang hadir begitu saja, menyentuh bagian terdalam hati manusia.

Perasaan yang tidak dapat diukur dengan logika dan tidak dapat dijelaskan dengan kalimat yang paling indah sekalipun.

“Itulah sebabnya banyak orang yang sudah berhaji atau berumrah selalu ingin kembali lagi. Karena ada perasaan yang tidak bisa diterangkan. Tidak cukup kata-kata untuk menjelaskan pengalaman itu,” ujarnya.

Ia kemudian mengenang saat pertama kali melihat Ka’bah.

Mata yang selama ini hanya melihat gambar dan tayangan televisi tiba-tiba berhadapan langsung dengan pusat kiblat umat Islam sedunia.

Di momen itu, katanya, air mata mengalir begitu saja.

Bukan karena kesedihan.

Bukan pula karena kelelahan.

Melainkan karena hati merasakan sesuatu yang tidak pernah dialami sebelumnya.

“Ketika melihat Ka’bah, kita menangis. Ketika berziarah ke makam Rasulullah SAW, kita menangis. Bahkan ketika menceritakannya kembali seperti sekarang, air mata itu ingin keluar lagi,” tuturnya.

Kalimat itu terputus beberapa kali.

Bukan karena ia lupa apa yang ingin dikatakan.

Melainkan karena emosi yang kembali menyeruak dari relung hati.

Di tengah era ketika banyak hal diukur dengan angka, statistik, dan laporan kinerja, pengalaman Masdar mengingatkan bahwa ibadah haji memiliki dimensi yang jauh lebih luas daripada sekadar perjalanan fisik.

Di sana ada perjalanan hati.

Ada kerinduan.

Ada harapan.

Ada kepasrahan.

Dan ada perjumpaan spiritual yang sering kali tidak mampu diterjemahkan oleh bahasa manusia.

Mungkin karena itulah air mata Masdar menjadi begitu bermakna.

Ia tidak sedang menangis karena lelah bertugas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *