Analogi yang paling tepat mungkin adalah sebuah orkestra. Penonton menikmati harmoni musik yang dimainkan para pemusik. Mereka mengenal pemain biola, pemain piano, atau penyanyi utama.
Namun sedikit yang menyadari bahwa harmoni itu lahir karena ada seorang konduktor yang mengatur tempo, menjaga keseimbangan, dan memastikan setiap instrumen berbunyi pada waktu yang tepat.
Begitu pula komunikasi pemerintahan di Sumatera Utara hari ini. Yang tampil dihadapan publik adalah Gubernur Bobby Nasution, Wakil Gubernur H. Surya, para kepala dinas, kepala badan, dan kepala biro. Namun di balik harmoni itu terdapat sebuah sistem yang dibangun secara perlahan, konsisten, dan disiplin.
Apabila konsistensi ini terus dipertahankan, bukan tidak mungkin model komunikasi pemerintahan Sumatera Utara akan menjadi salah satu rujukan nasional dalam praktik keterbukaan informasi publik.
Sebab, sebagaimana harapan Gubernur Bobby Nasution kepada para pemimpin redaksi beberapa waktu lalu, tujuan akhirnya bukan sekadar menyebarluaskan program pemerintah, melainkan menjadikan media sebagai position tower—menara pengaruh yang mampu menyuarakan kepentingan Sumatera Utara hingga memengaruhi arah kebijakan nasional yang berpihak kepada daerah.
Barangkali, itulah capaian paling penting dari sepuluh bulan pertama Erwin Hotmansah Harahap: bukan membangun popularitas pribadi, melainkan membangun sebuah orkestra informasi yang membuat komunikasi pemerintahan berjalan harmonis, profesional, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat.
Sebuah fondasi yang, jika terus dirawat, akan menjadi modal penting bagi kepemimpinan Bobby Nasution dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang semakin transparan, kolaboratif, dan dipercaya publik.(*penulis bersertifikat wartawan utama dewan pers*)













