Wartawan di Era Algoritma: Menulis untuk Manusia, Ditemukan oleh Mesin – Laman 3 – Sinarsergai
Daerah

Wartawan di Era Algoritma: Menulis untuk Manusia, Ditemukan oleh Mesin

×

Wartawan di Era Algoritma: Menulis untuk Manusia, Ditemukan oleh Mesin

Sebarkan artikel ini

Karena itu, wartawan perlu memahami apa yang disebut search intent, yakni maksud atau kebutuhan seseorang ketika melakukan pencarian informasi di internet.

Orang yang mengetik pertanyaan di mesin pencari tidak selalu membutuhkan berita singkat. Dalam persoalan tertentu, publik membutuhkan penjelasan, konteks, data, kronologi, perbandingan atau pendalaman.

Pemahaman terhadap kebutuhan tersebut dapat membantu wartawan menentukan bentuk dan struktur informasi yang tepat.

Dengan demikian, SEO semestinya dimulai bukan dari pertanyaan “bagaimana mendapatkan klik?”, tetapi dari pertanyaan “informasi apa yang sesungguhnya dibutuhkan publik?”

*UKW Perlu Beradaptasi*

Temuan dan gagasan tersebut kemudian membawa konsekuensi pada sistem pengembangan kompetensi wartawan.

Penelitian Dr. Dedi Sahputra dan tim sebelumnya mengenai integrasi standar SEO ke dalam UKW wartawan media siber menyimpulkan perlunya memasukkan standar SEO ke dalam materi uji kompetensi karena terdapat perbedaan karakter produk jurnalistik media siber dibandingkan media cetak.

Dalam model yang ditawarkan, unsur SEO ditempatkan pada sejumlah materi UKW sesuai jenjang wartawan.

Artinya, wartawan media siber masa depan tidak cukup hanya menguasai kemampuan mencari berita, melakukan wawancara, menulis dan menyunting. Ia juga perlu memahami bagaimana berita bekerja di dalam ekosistem digital.

Bukan berarti wartawan harus berubah menjadi programmer. Namun, wartawan perlu memiliki literasi algoritmik: memahami bagaimana mesin menemukan, membaca dan menampilkan sebuah karya jurnalistik.

Dalam konteks inilah workshop desain modul UKW khusus media siber menjadi penting. Kompetensi teknis seperti SEO, struktur konten dan pemahaman terhadap perilaku mesin pencari dapat ditempatkan sebagai bagian dari kompetensi profesional wartawan, tetapi tetap berada di bawah prinsip-prinsip dasar jurnalistik.

*Etika Harus Hadir Sejak Awal*

Perubahan paradigma tersebut juga mengubah cara memandang etika jurnalistik. Etika tidak semestinya baru diperiksa setelah berita selesai ditulis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *