Keunggulan itu justru berada pada kemampuan yang sulit digantikan mesin: reportase lapangan, pengalaman langsung, menemukan fakta yang belum diketahui publik, melakukan verifikasi, memahami konteks, mengajukan pertanyaan kritis dan mempertanggungjawabkan informasi dengan nurani jurnalistik.
Dengan demikian, masa depan wartawan bukanlah menjadi manusia yang bekerja seperti mesin. Sebaliknya, wartawan perlu memahami cara kerja mesin agar dapat melakukan pekerjaan yang hanya dapat dilakukan manusia dengan lebih baik.
*Menulis untuk Manusia, Ditemukan oleh Mesin*
Pada akhirnya, gagasan yang dibawa dalam penelitian tersebut dapat diringkas dalam satu paradigma: menulis untuk manusia, menyusun struktur untuk mesin.
Mesin membutuhkan struktur. Publik membutuhkan makna. Algoritma membutuhkan data. Masyarakat membutuhkan informasi yang benar. Media membutuhkan keberlanjutan. Sedangkan jurnalisme membutuhkan integritas.
Karena itu, tantangan wartawan media siber bukan memilih antara SEO dan etika. Tantangannya adalah membangun kompetensi yang memungkinkan keduanya berjalan bersama.
SEO diperlukan agar karya jurnalistik dapat ditemukan. Etika diperlukan agar karya itu layak dipercaya.
Hukum pers diperlukan agar kemerdekaan dan tanggung jawab berjalan beriringan. Dan kepentingan publik tetap harus menjadi kompas.
Inilah tantangan baru profesi wartawan di era algoritma: menggunakan logika mesin tanpa kehilangan nurani jurnalistik.(zul)













