Wartawan di Era Algoritma: Menulis untuk Manusia, Ditemukan oleh Mesin – Laman 4 – Sinarsergai
Daerah

Wartawan di Era Algoritma: Menulis untuk Manusia, Ditemukan oleh Mesin

×

Wartawan di Era Algoritma: Menulis untuk Manusia, Ditemukan oleh Mesin

Sebarkan artikel ini

Pertimbangan etis harus hadir sejak wartawan menentukan topik, memilih sumber, melakukan verifikasi, menentukan sudut pandang, membuat judul, memilih gambar, menyusun struktur berita hingga mendistribusikannya melalui berbagai platform.

Dengan pendekatan seperti itu, etika berubah dari sekadar mekanisme koreksi menjadi mekanisme pencegahan.

Wartawan tidak hanya dituntut mampu menjawab apakah sebuah berita melanggar etika, tetapi juga mampu merancang berita sejak awal agar akurat, relevan, mudah ditemukan, mudah dipahami dan tetap menghormati kepentingan publik.

Gagasan tersebut sejalan dengan perhatian penelitian Dr. Dedi Sahputra terhadap kompetensi wartawan dalam menghasilkan karya jurnalistik yang memenuhi standar hukum dan etika pers.

Penelitian sebelumnya mengenai model etika dan hukum media siber juga menempatkan kompetensi wartawan sebagai salah satu unsur penting dalam menghasilkan produk jurnalistik yang bertanggung jawab.

*Redaksi dan Teknologi Tidak Bisa Lagi Berjalan Sendiri*

Perubahan itu pada akhirnya menuntut perubahan di dalam tubuh perusahaan media. Redaksi dan teknologi tidak lagi dapat bekerja sebagai dua dunia yang sepenuhnya terpisah.

Kecepatan situs, struktur halaman, metadata, keterhubungan antarkonten, pengalaman pengguna, hingga data perilaku pembaca memiliki konsekuensi terhadap bagaimana karya jurnalistik ditemukan dan dikonsumsi publik.

Namun, data juga tidak boleh berubah menjadi penguasa baru di ruang redaksi. Jumlah klik dapat memberi informasi mengenai perilaku audiens, tetapi tidak otomatis menentukan nilai jurnalistik sebuah berita.

Media harus mampu membedakan antara apa yang populer dan apa yang penting. Di situlah independensi editorial diuji.

Wartawan Tidak Boleh Kehilangan Keunggulan Manusia

Tantangan tersebut menjadi semakin penting ketika kecerdasan buatan atau artificial intelligence semakin mampu menghasilkan teks secara cepat.

Jika mesin semakin mampu menyusun kalimat, merangkum informasi dan memproduksi konten, maka keunggulan wartawan tidak lagi semata-mata terletak pada kemampuan merangkai kata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *