Sebuah event olahraga, misalnya, menciptakan rantai ekonomi yang lebih panjang. Atlet dan penonton membutuhkan transportasi, akomodasi, makanan, dan berbagai layanan. UMKM memperoleh pasar, sponsor memperoleh ruang promosi, pelaku industri kreatif mendapatkan panggung, sementara daerah berpeluang memperoleh pendapatan dari pemanfaatan aset.
Di titik inilah BLUD menjadi lebih dari sekadar model administrasi. Ia merupakan instrumen menuju industrialisasi olahraga.
Paradigma tersebut sekaligus menawarkan jalan keluar terhadap ketergantungan olahraga pada APBD. Pemerintah tetap memiliki tanggung jawab dalam pembinaan atlet dan pembangunan olahraga. Namun, sebagian aktivitas ekonomi di sekitar venue dan event dapat dikembangkan menjadi sumber pendapatan untuk menopang keberlanjutan pengelolaan fasilitas.
Dengan kata lain, olahraga secara bertahap diarahkan untuk ikut membiayai masa depannya sendiri.
Langkah ini juga menunjukkan bahwa ukuran keberhasilan pembangunan olahraga tidak berhenti pada jumlah medali. Ada ukuran lain yang tak kalah penting: seberapa produktif aset olahraga yang telah dibangun, seberapa banyak masyarakat memanfaatkannya, dan seberapa besar aktivitas ekonomi yang tumbuh di sekitarnya.
Namun, di balik prospek besar itu terdapat satu pekerjaan rumah: tata kelola.
BLUD harus dibangun dengan prinsip transparansi, akuntabilitas, profesionalisme dan pelayanan publik. Orientasi pendapatan tidak boleh menggeser fungsi utama fasilitas olahraga. Pemanfaatan komersial harus berjalan seiring dengan kepentingan pembinaan atlet, masyarakat dan prestasi olahraga.
Karena itu, keberhasilan terobosan ini nantinya bukan hanya ditentukan oleh lahirnya tujuh regulasi atau terbentuknya kelembagaan BLUD. Ukuran sebenarnya adalah apakah venue olahraga Sumut benar-benar menjadi lebih hidup, produktif dan mandiri.
Jika berhasil, gagasan Bobby Nasution yang diterjemahkan Ipunk melalui Dispora Sumut dapat menjadi lebih dari sekadar kebijakan daerah. BLUD olahraga dapat menjadi model baru: mengubah warisan PON dari aset yang membutuhkan biaya menjadi aset yang mampu menciptakan nilai.













