Ia mencontohkan Jepang sebagai negara yang dikenal memiliki kedisiplinan tinggi dan budaya menghormati sesama. Menurutnya, nilai-nilai tersebut dapat menjadi pelajaran bagi Indonesia dalam membangun generasi muda yang unggul, tidak hanya dari sisi pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga karakter.
Perkuat Peran Guru Cegah Radikalisme di Kalangan Pelajar
Kegiatan Literasi Digital Berbasis Moderasi tersebut berlangsung selama dua hari, mulai Selasa (20/10/2026) hingga Rabu (21/10/2026), dengan melibatkan lebih dari 250 peserta. Mereka terdiri atas guru SMP, MTs, SMA, MA, serta ustaz dan ustazah dari pondok pesantren di Sumatera Utara.
Kegiatan ini berfokus pada penguatan peran tenaga pendidik dalam mencegah penyebaran paham kekerasan dan radikalisme di kalangan pelajar. Upaya tersebut dinilai semakin penting di tengah maraknya konten kekerasan, ujaran kebencian, intoleransi, dan propaganda ekstremisme yang beredar di ruang digital.
Deputi Bidang Pencegahan, Perlindungan dan Deradikalisasi BNPT, Irjen Pol. Wawan Ridwan, menyatakan bahwa guru memiliki posisi strategis dalam membentuk karakter, menanamkan nilai-nilai kebangsaan, serta menjadi teladan bagi peserta didik.
Peran tersebut semakin penting karena proses pembelajaran dan pembentukan perilaku anak saat ini tidak hanya berlangsung di lingkungan sekolah, tetapi juga melalui berbagai platform digital.
Sementara itu, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Sumatera Utara melalui Kabid Wawasan Kebangsaan dan Penanganan Konflik, Emir Mahbob Lubis, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut.
Ia menilai literasi digital berbasis moderasi menjadi langkah penting untuk memperkuat wawasan kebangsaan sekaligus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penyebaran paham radikalisme melalui ruang digital.
Ketua FKPT Sumatera Utara, Prof. Arifuddin Muda Harahap, M.Hum., berharap keterlibatan para guru dalam kegiatan tersebut dapat membantu menekan potensi kekerasan dan ekstremisme di kalangan siswa.














