MEDAN,Sinarsergai.com— Wartawan media siber kini menghadapi tantangan yang tidak dikenal dalam praktik jurnalistik konvensional: karya jurnalistik tidak cukup hanya benar, akurat dan memenuhi kaidah etika, tetapi juga harus mampu ditemukan publik di tengah kepadatan informasi digital.
Di balik tantangan itu terdapat kekuatan baru yang secara perlahan ikut menentukan informasi apa yang ditemukan dan dibaca masyarakat: algoritma mesin pencari.
Persoalan tersebut menjadi salah satu pokok pemikiran dalam penelitian berjudul “Implementasi SEO untuk Peningkatan Ketrampilan Wartawan Menghasilkan Produk Jurnalistik dengan Konten Etika dan Hukum Pers dalam Mendorong Keberlanjutan Media Siber”, yang dipaparkan dalam Workshop Desain Model Materi Modul UKW Khusus Media Siber di Hotel Grand Sakura, Jalan HM Yamin, Medan, Sabtu (22/8/2026).
Penelitian tersebut dilakukan tim yang terdiri dari Dr. Dedi Sahputra, S.Sos., MA, sebagai ketua, serta Dr. Zakaria Siregar, S.Sos., MSP dan Dr. Faiji Wikanda, S.Pd.I., M.Pd.I., sebagai anggota dari Univeesitas Medan Area.
Kegiatan yang dibuka Ketua SMSI Sumut Erris J Napitupulu diikuti sekitar 30 anggota SMSI merupakan tindak lanjut dari Focus Group Discussion (FGD) penelitian sekaligus menjadi ruang untuk merumuskan model materi Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang lebih sesuai dengan karakter media siber.
Gagasan utama penelitian itu sederhana, tetapi memiliki konsekuensi besar terhadap masa depan profesi wartawan: SEO tidak boleh ditempatkan sebagai teknik mengejar klik semata, melainkan sebagai kompetensi yang membantu karya jurnalistik berkualitas ditemukan oleh publik tanpa mengorbankan etika dan hukum pers.
*Ketika Algoritma Menjadi Gatekeeper Baru*
Dalam sistem media konvensional, wartawan dan editor memiliki peran utama sebagai gatekeeper atau penjaga gerbang informasi. Mereka memilih fakta, menentukan sudut pandang pemberitaan, melakukan verifikasi, kemudian memutuskan informasi apa yang layak disampaikan kepada publik.
Di media siber, mekanisme tersebut mengalami perubahan. Setelah berita dipublikasikan, terdapat satu kekuatan baru yang ikut menentukan tingkat keterlihatan informasi, yakni algoritma.













