Tokoh Agama Sergai Dorong Penguatan UMKM Berbasis Ekonomi Syariah – Sinarsergai
Daerah

Tokoh Agama Sergai Dorong Penguatan UMKM Berbasis Ekonomi Syariah

×

Tokoh Agama Sergai Dorong Penguatan UMKM Berbasis Ekonomi Syariah

Sebarkan artikel ini

Sei Rampah, Sinarsergai – Pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) dinilai perlu diarahkan pada sistem ekonomi yang tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga memperhatikan pemerataan dan kemaslahatan masyarakat. Salah satu pendekatan yang dinilai relevan adalah penerapan prinsip ekonomi syariah.

Hal tersebut disampaikan tokoh agama Sergai, Drs. Buya Tamlih Nasution, ketika membahas potensi dan strategi pengembangan UMKM Sergai di Kantor Serikat Media Siber Indonesia (SMSI), Dusun VIII, Desa Sei Rampah, Kecamatan Sei Rampah, Rabu (26/8/2026).

Menurut Buya Tamlih, sektor ekonomi mempunyai kedudukan yang cukup penting dalam Islam. Sebab, persoalan ekonomi berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat, terutama dalam menciptakan kesejahteraan dan kemaslahatan umat.

Ia mengungkapkan, sejarah Rasulullah Muhammad SAW ketika hijrah ke Madinah dapat menjadi salah satu contoh dalam membangun kekuatan ekonomi masyarakat. Ketika berada di Madinah, Rasulullah SAW tidak hanya membangun masjid dan mempererat persaudaraan antara kaum Muhajirin dengan Ansar, tetapi juga membangun pasar sebagai pusat aktivitas ekonomi.

“Pasar menjadi tempat menampung hasil produksi masyarakat, baik pertanian, peternakan maupun industri. Artinya, produksi harus didekatkan kepada konsumen,” ujar Buya Tamlih.

Konsep tersebut, kata dia, sangat memungkinkan untuk diterapkan dalam pengembangan UMKM di Kabupaten Sergai. Pemerintah dan masyarakat dapat mendorong setiap desa untuk memiliki produk unggulan yang disesuaikan dengan potensi sumber daya alam maupun kemampuan masyarakat setempat.

Sebagai contoh, desa yang memiliki produksi ubi cukup besar dapat mengembangkan berbagai olahan berbahan dasar ubi sehingga memiliki nilai jual lebih tinggi. Begitu juga dengan daerah yang mempunyai banyak sabut kelapa, yang dapat diarahkan menjadi sentra kerajinan atau produk kreatif berbahan dasar sabut kelapa.

Menurutnya, pola tersebut dapat dikembangkan melalui program “satu desa satu produk”. Dengan adanya pusat produksi berdasarkan potensi masing-masing desa, masyarakat akan lebih mudah memperoleh bahan baku, meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memasarkan produk yang dihasilkan.

Editor: Husnur Rizal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *