MEDAN, Sinarsergai.com — Bupati Batu Bara, , resmi menyandang gelar doktor setelah berhasil mempertahankan disertasinya dalam sidang ujian terbuka Program Doktor di , sebuah capaian akademik yang dinilai memperkuat legitimasi kepemimpinan berbasis ilmu pengetahuan di daerah.
Dalam sidang terbuka yang dipimpin langsung oleh Rektor UIN Sumatera Utara bersama sejumlah penguji, Baharuddin berhasil mempertahankan disertasinya berjudul Komunikasi Politik Identitas Berbasis Agama dan Budaya di Media Sosial dalam Pemilihan Bupati di Kabupaten Batu Bara Tahun 2024. Ia dinyatakan lulus dengan nilai A+ setelah mampu menjawab berbagai pertanyaan kritis dari tim penguji.
Suasana sidang berlangsung khidmat namun penuh semangat. Ratusan hadirin yang mengikuti langsung ujian terbuka itu memberikan tepuk tangan panjang sesaat setelah hasil akhir diumumkan. Momen tersebut menjadi penanda bahwa keberhasilan itu tidak hanya dipandang sebagai pencapaian pribadi, tetapi juga kebanggaan bagi masyarakat Batu Bara.
Pengamat menilai, gelar doktor bagi seorang kepala daerah memiliki makna yang jauh lebih luas dibanding sekadar prestasi akademik. Di tengah tuntutan tata kelola pemerintahan yang semakin kompleks, pemimpin daerah dituntut tidak hanya piawai secara administratif, tetapi juga mampu membaca persoalan sosial secara ilmiah dan menyusun kebijakan berbasis riset.
“Gelar doktor itu bukan hanya simbol intelektual, tetapi juga amanah moral. Publik akan menaruh harapan lebih besar agar kepemimpinan dijalankan dengan pendekatan yang rasional, terukur, dan berpihak pada kepentingan rakyat,” ujar seorang akademisi pemerintahan di Medan.
Tema disertasi yang diangkat Baharuddin juga dinilai sangat relevan dengan dinamika demokrasi saat ini. Politik identitas berbasis agama dan budaya menjadi isu sensitif, terutama dalam era media sosial yang mempercepat penyebaran opini dan polarisasi publik.
Kabupaten Batu Bara sebagai wilayah dengan keragaman sosial dan dinamika politik lokal yang kuat dinilai membutuhkan pendekatan komunikasi politik yang lebih sehat agar demokrasi tidak terjebak pada eksploitasi sentimen primordial.













