Fuad turut menyampaikan dukungannya terhadap gagasan ekspor melalui satu pintu yang saat ini didorong pemerintah.
Menurut dia, kebijakan tersebut dapat memperkuat pengawasan terhadap devisa hasil ekspor sekaligus meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan sumber daya nasional.
Ia menjelaskan bahwa selama ini sebagian devisa hasil ekspor Indonesia masih banyak tersimpan di luar negeri.
Kondisi tersebut membuat manfaat ekonomi yang seharusnya dapat dinikmati di dalam negeri menjadi kurang optimal.
“Kebijakan ekspor satu pintu akan memperkuat cadangan devisa, meningkatkan penerimaan negara, serta mempertegas pelaksanaan Pasal 33 UUD 1945,” kata Fuad.
Selain berpotensi memperkuat nilai tukar rupiah, kebijakan itu juga diyakini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Dengan pengelolaan devisa yang lebih efektif, pemerintah dinilai memiliki ruang yang lebih besar untuk membiayai pembangunan dan memperkuat sektor-sektor strategis.
Fuad menilai berbagai kritik terhadap kebijakan ekonomi baru pemerintah merupakan hal yang wajar dalam sistem demokrasi.
Namun, ia mengingatkan agar kritik tersebut tetap didasarkan pada data dan fakta, bukan spekulasi yang berpotensi menimbulkan ketidakpastian.
“Saya melihat isu-isu seperti ini lebih merupakan upaya menciptakan kondisi tertentu. Selama kebijakan yang dijalankan bertujuan memperkuat ekonomi nasional dan meningkatkan kesejahteraan rakyat, maka pemerintah harus tetap konsisten menjalaninya,” ujarnya.
Lebih lanjut, Fuad mengatakan fluktuasi nilai tukar rupiah merupakan bagian dari dinamika ekonomi global yang tidak dapat dihindari.
Namun demikian, penguatan fondasi ekonomi nasional tetap harus menjadi prioritas melalui peningkatan kemandirian energi, optimalisasi pengelolaan sumber daya alam, dan penguatan penerimaan negara.
Menurut dia, pemerintah perlu tetap konsisten menjalankan agenda transformasi ekonomi yang telah dirancang.
Sebab, keberhasilan perubahan paradigma ekonomi akan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan arah pembangunan Indonesia dalam jangka panjang. ***













