Melalui inovasi Anti Letih, proses pelayanan kepulangan jamaah dirancang berlangsung secara simultan. Saat jamaah memasuki aula penerimaan, air zamzam telah tersedia di kursi masing-masing sesuai nomor manifes. Distribusi bagasi berlangsung bersamaan dengan proses administrasi, sementara pemerintah kabupaten dan kota langsung menyiapkan keberangkatan jamaah menuju daerah asal.
Prosesi penyambutan pun dibuat ringkas. Kepala daerah cukup menyematkan selempang secara simbolis kepada perwakilan jamaah tanpa rangkaian pidato yang panjang. Dengan pola tersebut, seluruh proses penerimaan hingga jamaah meninggalkan asrama dapat diselesaikan dalam waktu sekitar 50 menit.
Bagi Zulkifli Sitorus, seluruh penyederhanaan itu bermuara pada satu tujuan, yakni mengurangi kelelahan jamaah setelah menempuh perjalanan panjang dari Arab Saudi.
Apresiasi Wakil Menteri Haji dan Umrah terhadap inovasi tersebut menjadi penanda bahwa pendekatan pelayanan yang dikembangkan Debarkasi Medan tidak hanya menjawab kebutuhan jamaah di Sumatera Utara, tetapi juga sejalan dengan arah baru transformasi pelayanan haji nasional.
Di tengah upaya pemerintah membangun Kementerian Haji dan Umrah yang lebih responsif, pengalaman Debarkasi Medan menunjukkan bahwa inovasi pelayanan tidak selalu lahir dari program yang rumit. Sering kali, perubahan terbesar justru dimulai dari keberanian memangkas prosedur yang tidak lagi dibutuhkan dan menempatkan kenyamanan jamaah sebagai ukuran utama keberhasilan pelayanan *(penulis zulfikar tanjung bersertifikat wartawan utama dewan pers)*













