MEDAN, Sinarsergai.com – Di dunia jurnalistik, menyatukan wartawan sering kali jauh lebih sulit daripada menyatukan sebuah organisasi.
Sebab yang dipersatukan bukan sekadar orang, melainkan pikiran, idealisme, pengalaman, karakter redaksi, bahkan ego profesional yang memang menjadi bagian dari kehidupan pers yang sehat.
Karena itu, ukuran keberhasilan seorang pemimpin organisasi wartawan sesungguhnya bukanlah banyaknya anggota yang mengikuti arahannya, apalagi keseragaman berita yang lahir.
Wartawan bukan aparatur yang bekerja berdasarkan komando isi pemberitaan. Mereka bekerja berdasarkan fakta, kode etik, dan kebijakan redaksi masing-masing.
Yang dapat disatukan hanyalah langkah.
*Dan di titik itulah kepemimpinan Saifullah Defaza menarik untuk dicermati.*
Dalam penyelenggaraan Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) ke-50, Forum Wartawan Pemprov Sumut (FWP) yang dipimpinnya mengoordinasikan sekitar 115 wartawan dari berbagai media. Angka itu mungkin tampak biasa.
Namun bagi mereka yang memahami dinamika organisasi pers, jumlah tersebut sesungguhnya menggambarkan sebuah tantangan kepemimpinan yang tidak sederhana.
Seratus lima belas wartawan berarti seratus lima belas karakter. Seratus lima belas cara memandang sebuah peristiwa. Seratus lima belas kebijakan redaksi yang berbeda. Tidak mungkin semua menulis dengan sudut pandang yang sama, dan memang tidak boleh demikian.
*Justru di situlah nilai kepemimpinan diuji,*
Saifullah tampaknya memilih jalan yang tepat. Ia tidak berusaha menyeragamkan isi berita.
Ia membangun kesepahaman mengenai mekanisme peliputan, memperkuat koordinasi, mengatur rotasi tugas, dan memastikan seluruh wartawan memperoleh akses informasi yang sama. Dengan cara itu, independensi jurnalistik tetap terjaga, sementara efektivitas peliputan dapat diwujudkan.
Pilihan itu menunjukkan pemahaman yang matang mengenai batas antara kepemimpinan organisasi dan kebebasan pers.
Dalam organisasi wartawan, seorang ketua bukan editor bagi anggotanya.
Ia adalah fasilitator yang membuka ruang, membangun komunikasi, dan memastikan setiap wartawan dapat menjalankan profesinya secara optimal. Kepemimpinan seperti inilah yang sering kali tidak terlihat, tetapi justru menentukan kualitas sebuah organisasi.













