*Menariknya, pendekatan tersebut bukan lahir secara tiba-tiba*.
Sebelum memimpin Forum Wartawan Pemprov Sumut, Saifullah Defaza telah cukup lama dikenal di kalangan insan pers Kota Medan melalui kiprahnya sebagai Ketua Persatuan Wartawan Unit Pemerintah Kota Medan. Pengalaman itu memberinya kesempatan memahami dinamika hubungan antara pemerintah, media, dan kepentingan publik.
Ditambah dengan pengalamannya sebagai praktisi pers, ia terbiasa melihat bahwa komunikasi yang baik bukan dibangun melalui keseragaman pandangan, melainkan melalui penghormatan terhadap perbedaan yang dikelola dengan baik.
Di tengah perubahan lanskap media yang bergerak begitu cepat, organisasi wartawan juga menghadapi tantangan baru. Kecepatan informasi sering kali mengalahkan kedalaman verifikasi. Kompetisi antarmedia semakin ketat. Ruang digital mempercepat lahirnya berbagai opini.
Dalam situasi seperti itu, organisasi wartawan tidak cukup hanya menjadi wadah berkumpul. Ia harus mampu menjadi ruang kolaborasi yang memperkuat profesionalisme anggotanya.
*Generasi muda memiliki peran penting dalam proses itu.*
Kepemimpinan tidak lagi hanya diukur dari usia atau lamanya seseorang berkecimpung dalam organisasi, melainkan dari kemampuannya membaca perubahan dan membangun jembatan di antara berbagai kepentingan tanpa mengorbankan nilai-nilai dasar jurnalistik.
Dalam konteks itulah, sosok Saifullah Defaza memberi satu pelajaran yang menarik. Bahwa seorang jurnalis muda tidak harus menunggu puluhan tahun untuk menghadirkan gagasan yang matang.
Yang dibutuhkan adalah kemauan mendengar, kemampuan membangun kepercayaan, dan kecakapan merangkul banyak pihak tanpa kehilangan pijakan pada etika profesi.
Pada akhirnya, keberhasilan mengoordinasikan peliputan PRSU bukanlah semata tentang terselenggaranya jadwal piket atau hadirnya wartawan di arena setiap hari.
Yang lebih penting adalah terbangunnya kesadaran bahwa pers tetap dapat berjalan bersama dalam sebuah ekosistem kolaboratif tanpa kehilangan independensinya.













